Cryptoharian – Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan setelah pernyataan Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran eskalasi konflik dengan Iran. Dalam hitungan jam setelah pidatonya pada 1 April, BTC turun hampir 4 persen dan sempat diperdagangkan di bawah US$ 66.000.
Penurunan ini terjadi bersamaan dengan pergeseran sentimen pasar global. Investor mulai menjauh dari aset berisiko setelah Trump memberi sinyal kemungkinan serangan militer yang lebih agresif, tanpa kejelasan soal de-eskalasi dalam waktu dekat.
Dampaknya tidak hanya terasa di kripto.
Pasar saham ikut melemah, dengan SnP 500 bergerak di zona merah dan bursa Asia membalikkan penguatan sebelumnya. Di sisi lain, harga minyak melonjak tajam. Brent crude naik menembus US$ 106 per barel, mencerminkan kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Pergerakan ini kembali menegaskan satu hal: dalam kondisi geopolitik yang tegang, Bitcoin masih bergerak sejalan dengan aset berisiko lainnya.
Data terbaru menunjukkan korelasi 30 hari antara Bitcoin dan SnP 500 berada di sekitar 0,75. Angka ini cukup tinggi dan mengindikasikan bahwa investor institusi masih melihat BTC sebagai aset growth, bukan safe haven.
Baca Juga: Laju Burn Shiba Inu Melemah, Harga Terancam?
Artinya, ketika sentimen risk-off muncul, Bitcoin ikut tertekan.
Secara teknikal, Bitcoin kini mendekati zona support penting di kisaran US$ 64.000 – US$ 65.000. Area ini sudah beberapa kali menahan penurunan dalam beberapa pekan terakhir.
Jika level tersebut ditembus, tekanan bisa berlanjut menuju US$ 60.000, yang merupakan area low sebelumnya.
Di sisi atas, resistance masih berada di kisaran US$ 68.000 hingga US$ 70.000. Selama level ini belum berhasil direbut kembali, struktur pasar masih menunjukkan pola lower high, tanda bahwa tren turun belum benar-benar selesai.
Selain faktor makro, tekanan juga datang dari dalam pasar itu sendiri.
Sejumlah perusahaan publik dan entitas treasury mulai menjual sebagian kepemilikan Bitcoin mereka untuk menjaga likuiditas.
Di saat yang sama, investor jangka panjang kini menguasai sekitar 80 persen suplai BTC. Angka ini biasanya mendekati fase akhir bear market, namun dalam siklus sebelumnya, fase ini sering diikuti periode sideways yang cukup panjang sebelum benar-benar pulih.
