Sementara harga minyak melonjak akibat kekhawatiran pasokan, Tom Lee dari BitMine tetap yakin bahwa pasar saham mungkin telah berada di level terendah, sehingga tercipta kontras tajam dengan mobilisasi diplomatik yang dilakukan dengan cepat oleh kekuatan Eropa.
Di sisi lain, pasar global mengirimkan sinyal yang saling bertolak belakang seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz.
Pada pasar minyak mentah, harga telah menembus level US$100, dengan patokan WTI dan Brent yang ikut naik bersama produk olahan seperti minyak pemanas. Para analis menyoroti adanya gangguan struktural, bukan sekadar volatilitas jangka pendek.
Tidak adanya rute pelayaran yang jelas dan waktu yang dibutuhkan untuk mengamankan jalur pengiriman menandakan gangguan yang berlarut-larut, bukan sekadar guncangan sementara.
Saat pasar merespons, para pemimpin politik mempercepat upaya untuk menstabilkan kawasan. Emmanuel Macron telah menyerukan penyelesaian diplomatik yang cepat, menekankan perlunya mengembalikan jalur pelayaran yang aman dan terbuka di Selat Hormuz.
Secara bersamaan, Keir Starmer menegaskan bahwa lebih dari 40 negara sedang berkoordinasi untuk mengamankan pengiriman global.
Inggris dan Prancis juga sedang mempersiapkan pertemuan puncak bersama, yang bertujuan mengirimkan misi multinasional demi menjaga kelancaran pengiriman laut.
Perkembangan ini semakin menegaskan besarnya gangguan, karena rantai pasokan perdagangan dunia dan energi kini langsung terancam.
Meski ketegangan kian meningkat, Tom Lee menyoroti perbedaan penting: harga minyak masih berada di bawah puncak terakhir walaupun risiko geopolitik naik. Ia menggambarkan minyak mentah saat ini “berat,” seolah-olah pasar belum benar-benar memperhitungkan skenario terburuk.
Menurut Lee, dinamika ini, jika digabungkan dengan performa saham yang tetap tangguh, mengarah pada kemungkinan pasar saham sudah mencapai titik terbawahnya.
Meski begitu, pandangan ini sangat berbeda dengan peringatan dari analis dan pembuat kebijakan lain yang menyoroti adanya ketidakstabilan jangka panjang.
Risiko di pasar aset kripto pun kian tinggi. Secara historis, aset kripto kadang bereaksi beragam saat tekanan makro terjadi, kadang-kadang menjadi aset berisiko, kadang menjadi lindung nilai.
Dengan pasar energi sedang menyesuaikan harga dan koordinasi geopolitik makin kuat, kini pasar kripto sangat terkait dengan likuiditas dan sentimen risiko yang lebih luas.
Para trader tengah memantau apakah Bitcoin dan aset lainnya akan mengikuti reli di pasar saham atau justru terpengaruh oleh meningkatnya ketidakpastian global.
Sambil diplomasi bergerak cepat melawan arah pasar, pertarungan antara optimisme Tom Lee dan realitas geopolitik kini menjadi narasi utama bagi investor.


