Analis kripto Ivan Liljeqvist memperingatkan bahwa Bitcoin (BTC) belum mencapai titik bawah siklusnya dan masih ada potensi aksi jual besar ke depan.
Pernyataan ini muncul ketika BTC sempat bergerak naik, setelah menguji batas US$76.000 pada hari Selasa dalam reli singkat yang dipengaruhi perubahan sentimen geopolitik dan data PPI AS yang mengejutkan.
Liljeqvist mengatakan bahwa Bitcoin belum mengalami apa yang ia sebut sebagai “flush besar.” Ia menilai US$60.000 bukanlah titik terendah, dan tren secara umum masih jelas menurun.
Selain itu, analis juga menunjuk pada siklus dividen STRC milik MicroStrategy sebagai faktor pendorong pergerakan harga BTC belakangan ini.
Tekanan beli pada STRC biasanya memuncak sekitar tanggal 15 setiap bulan. Hal ini memungkinkan perusahaan Michael Saylor untuk menerbitkan lebih banyak saham dan menghimpun dana guna membeli Bitcoin.
Namun, Liljeqvist menilai MicroStrategy saja tidak cukup untuk mendorong BTC menembus level resistance kunci. Ia menggambarkan kondisi saat ini sebagai “risk-off sejak Oktober” dan menyarankan untuk lebih fokus pada pelestarian modal daripada mengambil posisi agresif.
Walaupun prospeknya cenderung bearish, kehadiran institusi mungkin bisa mencegah penurunan tajam seperti yang terjadi di siklus sebelumnya.
Fidelity Digital Assets menyampaikan awal bulan ini bahwa risiko penurunan pada 2026 tidak sedramatis periode sebelumnya.
Perusahaan tersebut menjelaskan bahwa sekitar 12% dari total suplai BTC kini dipegang oleh perusahaan publik dan ETF.
Siklus sebelumnya yang didorong ritel menyebabkan penurunan lebih tajam. BTC turun 82% pasca puncaknya di tahun 2017 dan 77% setelah rekor tertingginya pada 2021. Penurunan saat ini sekitar 40% dari all-time high terakhir menandakan pergeseran struktural dalam pola bear market.
Meski begitu, apakah aksi beli institusi bisa menopang harga atau justru gagal menahan capitulation yang lebih dalam masih menjadi pertanyaan utama bagi trader yang memantau BTC menjelang paruh kedua tahun 2026.


