Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penguatan signifikan dengan sempat menembus level US$79.000, mencatat kenaikan lebih dari 10 persen dalam sebulan terakhir. Namun, di balik reli tersebut, sejumlah indikator on-chain justru mulai memberikan sinyal peringatan yang tidak bisa diabaikan.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$78.258 atau naik sekitar 2,54 persen dalam sehari. Meski tren jangka pendek terlihat positif, analis menilai ada potensi tekanan yang dapat menghambat kelanjutan kenaikan harga.
Menurut CryptoQuant, kenaikan harga Bitcoin saat ini lebih banyak didorong oleh aktivitas di pasar perpetual futures (derivatif), bukan dari pembelian langsung di pasar spot.
Dikutip BeInCrypto, kondisi ini dinilai berisiko karena permintaan spot justru masih mengalami kontraksi, meskipun melambat. Situasi serupa pernah terjadi pada Januari lalu, ketika Bitcoin mencapai puncak di sekitar US$98.000 sebelum akhirnya mengalami koreksi tajam.
Jika pelaku pasar mulai merealisasikan keuntungan di tengah lemahnya permintaan spot, potensi penurunan harga menjadi semakin besar.
Baca juga: Bitcoin Nyaris $80K, Tapi Fear & Greed Masih Fear?
Data dari Glassnode menunjukkan bahwa rata-rata keuntungan yang direalisasikan oleh investor jangka pendek (Short-Term Holder Realized Profit) mencapai US$4,4 juta per jam.
Angka ini hampir tiga kali lipat dari ambang US$1,5 juta yang sebelumnya selalu menandai puncak harga lokal sepanjang tahun 2026. Lonjakan ini menunjukkan bahwa semakin banyak investor yang mulai mengambil keuntungan, yang dapat meningkatkan tekanan jual di pasar.
Selain itu, investor yang membeli di kisaran US$60.000 hingga US$70.000 kini berada dalam posisi profit, sehingga memiliki kecenderungan untuk menjual aset mereka.
Tim Research Tokocrypto melihat reli Bitcoin saat ini masih memiliki fondasi yang belum sepenuhnya solid, terutama karena ketergantungan pada pasar derivatif yang cenderung lebih volatil.
Menurut mereka, kombinasi antara meningkatnya realisasi profit oleh investor jangka pendek dan lemahnya permintaan spot menjadi indikator penting yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar.
Secara teknikal, Bitcoin baru saja menembus level penting True Market Mean di US$78.100, yang dianggap sebagai sinyal positif dalam siklus pasar.
Namun, level berikutnya di sekitar US$80.500, yang merupakan Short-Term Holder Cost Basis, diperkirakan menjadi resistance kuat. Jika harga mendekati area ini, lebih dari 54 persen investor baru akan kembali berada dalam posisi profit, yang berpotensi meningkatkan aksi jual.
Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terbentuknya puncak harga dalam jangka pendek jika tidak diimbangi dengan masuknya permintaan baru yang cukup kuat.
Baca juga: Bitcoin Terjungkal ke Level ‘Extreme Fear’, Mengapa Kripto AI Justru Meroket Pekan Ini?
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
The post Bitcoin Hampir $80K, Tapi Alarm Bahaya Menyala! appeared first on Tokocrypto News.
