Cryptoharian – Bitcoin kini berada di titik teknikal penting setelah mendekati area 200-day EMA dan 200-day SMA untuk pertama kalinya dalam 184 hari terakhir. Menurut salah satu analis papan atas di X, yakni Mr. Anderson, area ini bukan sekadar dua garis moving average biasa, melainkan zona penentu arah market berikutnya.
Dalam analisanya, Anderson menjelaskan bahwa ketika harga bergerak terlalu jauh dari area moving average dalam waktu lama, maka pergerakan kembali menuju area tersebut biasanya menjadi fase mean reversion yang “lebih mudah.” Tantangan sebenarnya justru muncul setelah harga tiba di sana.
“Bitcoin secara historis jarang langsung menembus area 200-day EMA dan SMA lalu melanjutkan tren tanpa hambatan,” ungkap Anderson.
Sebaliknya, market cenderung menghabiskan waktu cukup lama di area tersebut, mulai dari 20 hari hingga lebih dari 100 hari, dengan pergerakan penuh fakeout, rejection, hingga squeeze sebelum arah tren besar berikutnya benar-benar terbentuk.
Zona 200-Day Jadi Area Pertarungan Market
Menurut Anderson, trader sebaiknya tidak melihat 200 EMA dan 200 SMA sebagai dua garis terpisah. Area itu lebih tepat dianggap sebagai “battle zone” yang harus dibuktikan market sebelum tren baru bisa dipercaya.
“Sentuhan pertama ke area ini memang menarik perhatian, tetapi perilaku harga setelahnya jauh lebih penting,” ujarnya.
Dalam banyak siklus sebelumnya, Bitcoin kerap mengalami pergerakan bolak-balik di sekitar zona tersebut. Kadang harga langsung breakout, kadang justru ditolak cepat. Namun lebih sering market masuk fase chop dengan banyak fake breakout yang menjebak kedua sisi market.
“Karena itu, struktur harga setelah pengujian area 200-day moving average akan menjadi sinyal utama arah Bitcoin berikutnya,” kata Anderson.
Baca Juga: Analis: Pola Bitcoin Sekarang Mirip Bottom 2015 dan 2022
Skenario Bullish Bitcoin
Untuk kubu bullish, Anderson mengatakan skenario terbaik adalah Bitcoin mampu menembus kedua moving average tersebut lalu bertahan di atasnya.
“Jika BTC berhasil membangun struktur higher high dan higher low secara konsisten, maka peluang kenaikan lanjutan masih terbuka cukup besar. Beberapa target potensial mulai dari area US$ 82.000, US$ 83.500, US$ 86.000, US$ 88.700, hingga US$ 92.000 dan US$ 98.000,” paparnya.
Meski begitu, Anderson mengingatkan bahwa Bitcoin masih memiliki banyak pekerjaan sebelum tren naik benar-benar terkonfirmasi. Selama harga belum mampu membangun acceptance kuat di atas area 200-day EMA dan SMA, BTC masih rentan membentuk lower high dalam struktur timeframe besar.
Fase Chop Dinilai Sangat Mungkin
Selain breakout atau reject, Anderson juga menilai kemungkinan terbesar justru market bergerak sideways cukup lama di sekitar zona tersebut.
Ia menjelaskan, kondisi chop seperti ini biasanya dipenuhi fake breakout, failed push, hingga pergerakan acak yang membuat trader mudah terjebak.
Dalam situasi seperti itu, edge trading cenderung menurun dan market lebih menghargai reaksi di area ekstrem dibanding sekadar mengikuti tren di tengah range.
Bearish Belum Hilang
Sementara itu, Anderson mengatakan trader bearish masih belum kehilangan peluang. Menurutnya, pendekatan terbaik bagi bear adalah tetap sabar dan menunggu rejection yang valid dibanding mencoba menebak puncak harga terlalu cepat.
“Jika skenario bearish benar-benar terjadi, market akan memberikan struktur yang cukup jelas seperti lower high, failed reclaim, atau rollover setelah candle rejection muncul,” tulisnya.
Karena itu, Anderson menegaskan bahwa pengujian area 200-day moving average memang penting, tetapi struktur harga setelah pengujian tersebut tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah market selanjutnya.

