Stablecoin sudah berkembang jauh dari peran asalnya sebagai alat trading. Sekarang, total suplai global stablecoin sekitar US$316 miliar, sementara para pembuatStablecoin sudah berkembang jauh dari peran asalnya sebagai alat trading. Sekarang, total suplai global stablecoin sekitar US$316 miliar, sementara para pembuat

Apakah Stablecoin Secara Resmi Menjadi Use Case Dunia Nyata Terkuat untuk Aset Kripto?

2026/05/06 17:33
durasi baca 7 menit
Untuk memberikan masukan atau menyampaikan kekhawatiran terkait konten ini, silakan hubungi kami di crypto.news@mexc.com

Stablecoin sudah berkembang jauh dari peran asalnya sebagai alat trading. Sekarang, total suplai global stablecoin sekitar US$316 miliar, sementara para pembuat kebijakan di AS telah menghabiskan setahun terakhir untuk membangun landasan hukum yang lebih kuat bagi para penerbit yang patuh. Di waktu yang sama, Eropa masih berusaha mengubah regulasi menjadi adopsi nyata, terutama untuk koin yang didukung euro.

BeInCrypto bertanya kepada lima pakar industri apakah stablecoin kini sudah menjadi use case nyata terkuat dari aset kripto.

Stablecoin Tumbuh Karena Menyelesaikan Masalah Keuangan Sehari-hari

Saat para pakar ditanya mengenai apa yang mendorong pertumbuhan stablecoin saat ini, ada satu tema yang berulang. Stablecoin berhasil karena mereka mengatasi masalah yang sudah dihadapi oleh banyak orang dan bisnis. Mengirim uang lintas negara biasanya lambat, mahal, dan hanya bisa dilakukan di jam kerja bank. Stablecoin menawarkan versi dolar digital yang bisa bergerak kapan saja.

Stefan Muehlbauer, Head of U.S. Government Affairs di CertiK, menyebut faktor utama adalah evolusi aset kripto “dari alat trading spekulatif menjadi infrastruktur keuangan esensial 24/7.” Menurut dia, stablecoin memberi perusahaan “solusi manajemen treasury internal yang realtime, murah, dan efisien,” terutama jika dibandingkan sistem perbankan yang masih bergantung pada jam kerja dan metode transfer lama.

Fernando Aranda, Marketing Director di Zoomex, memperkuat argumen itu. “Stablecoin menang karena mereka bisa melakukan hal yang belum bisa dicapai bank: penyelesaian transaksi dolar yang instan, global, dan 24/7. Penggerak sebenarnya bukan kripto, tetapi sistem keuangan yang rusak dan tingginya permintaan akses dolar di luar AS.”

Edward Wu, Head of BloFin Research, memberikan perbedaan penting. Dia memaparkan bahwa pertumbuhan stablecoin sebaiknya dipisahkan antara pertumbuhan volume dan adopsi untuk pembayaran nyata. Menurut dia, sebagian besar volume saat ini masih berasal dari “perpindahan internal wallet exchange/custodian, trading, serta putaran kontrak otomatis,” paparnya. Namun, untuk pembayaran nyata, dia menyoroti transfer bisnis lintas negara sebagai use case terkuat berdasarkan nilai, sedangkan transfer antar individu memperluas penetrasi pengguna secara lebih luas.

Memang, stablecoin mungkin belum sepenuhnya terlepas dari aktivitas yang berasal dari dunia kripto, tetapi mereka sudah menunjukkan nilai di pergerakan treasury, pembayaran lintas negara, serta akses dolar di daerah di mana mata uang lokal lemah atau tidak stabil.

Kekuatan Stablecoin juga Berpotensi Menimbulkan Risiko Baru

Secara garis besar, para pakar setuju atas masalah yang dipecahkan stablecoin. Mereka mempercepat waktu settlement, memangkas biaya transfer, dan memberi akses kepada pengguna terhadap nilai dalam dolar tanpa perlu memiliki hubungan dengan bank tradisional.

Muehlbauer menyatakan stablecoin membantu perusahaan multinasional mengelola likuiditas lebih efisien dengan memungkinkan “pergerakan modal secara realtime lintas negara tanpa perlu menahan dana menganggur di rekening-rekening bank lokal.” Dia juga menyoroti peran stablecoin di negara berkembang, di mana stablecoin berbasis dolar bisa membantu pengguna menghindari tekanan inflasi pada mata uang lokal.

Wu menekankan hal serupa, bahwa stablecoin mengatasi “tingginya biaya dan lambatnya proses transfer dana lintas negara” sekaligus memberikan “akses permissionless lewat smartphone untuk individu yang belum bisa mengakses layanan perbankan tradisional.”

Kevin Lee, Chief Business Officer di Gate, menuturkan stablecoin memecahkan “inefisiensi nyata dalam sistem keuangan, terutama untuk pembayaran lintas negara,” seraya meningkatkan efisiensi modal bagi trading dan memberi pasar “unit akun on-chain yang andal.”

Tapi, jawaban para pakar tidak hanya membahas sisi positifnya. Beberapa juga menyoroti risiko dan ketegangan yang bisa timbul seiring pertumbuhan stablecoin.

Muehlbauer menyoroti kekhawatiran lama di sektor perbankan mengenai “deposit flight,” yaitu ketika dana meninggalkan rekening bank tradisional dan berpindah ke alternatif digital. Ia pun mengingatkan bahwa jika stablecoin sudah mencapai ukuran sistemik, hilangnya kepercayaan bisa memicu penebusan massal dan penjualan paksa aset pendukung stablecoin.

Lee mengangkat kekhawatiran sejenis dari sudut pandang berbeda. Ia mengatakan adopsi stablecoin dalam skala besar bisa mengurangi efektivitas kebijakan moneter di ekonomi lokal lewat peningkatan dolarASisasi, apalagi di negara berkembang. Wu juga menyebut IMF sudah memperingatkan tentang penggantian mata uang ketika pengguna domestik makin sering bertransaksi dengan token bernominal asing. Ia menambahkan bahwa pemantauan AML dan kepemilikan manfaat tetap sangat menantang secara operasional meskipun sudah ada standar hukum.

Aranda menangkap kontradiksi itu dengan ringkas. “Stablecoin berhasil menyelesaikan soal kecepatan, biaya, dan akses – membuat uang jadi produk realtime. Tapi, mereka juga memusatkan kekuasaan di tangan penerbit dan regulator. Ironinya jelas: saat memperbaiki bank, stablecoin berisiko menciptakan ulang bentuk bank digital.”

Regulasi Membantu Stablecoin Menjadi Produk Bisnis

Saat membahas regulasi, panel pakar menunjukkan nada yang sangat sejalan. Tahun ini, kepastian hukum justru mendorong, bukan menghambat adopsi oleh bisnis.

Muehlbauer menyatakan regulasi adalah “faktor penggerak yang kuat,” karena regulasi mendorong stablecoin berkembang dari pasar gelap menjadi bagian sah dunia keuangan. Ia menyoroti GENIUS Act tahun 2025 dan pembahasan CLARITY Act sebagai contoh pengawasan yang dibutuhkan perusahaan besar sebelum benar-benar mengintegrasikan stablecoin ke sistem treasury dan pembayaran.

Wu sependapat bahwa “arah regulasi jelas mendorong adopsi institusional.” Ia menuturkan bahwa GENIUS Act sudah disahkan pada Juli 2025 dan implementasinya berjalan hingga 2026, di mana lembaga federal wajib merampungkan aturan final sebelum 18 Juli 2026. OCC sendiri sudah mengusulkan regulasi pelaksanaan dari Act ini yang menegaskan bahwa AS sedang membangun kerangka formal, bukan lagi bertumpu pada penegakan aturan secara ad hoc.

Aranda merangkum perubahan suasana itu dengan jelas. “Regulasi bukan lagi musuh – justru jadi kunci. Institusi tidak pernah dihalangi oleh aturan, mereka terhalang ketidakpastian. Kini ketika kepastian mulai muncul, stablecoin berubah dari sekedar solusi sementara menjadi fondasi infrastruktur.”

Ini mungkin adalah poin terpenting sepanjang diskusi. Stablecoin kini makin dipandang sebagai alat pembayaran dan treasury, di mana kepastian hukum menjadi faktor pertumbuhan, bukan penghambat.

Dolar Masih Mendominasi, Stablecoin Berbasis Fiat Lain Berebut Peran Lebih Sempit

Jika stablecoin sudah menjadi produk dunia nyata, pertanyaan berikutnya adalah apakah pertumbuhan ini akan merata di seluruh mata uang utama. Jawaban panel adalah sebagian besar tidak.

Untuk stablecoin yang didukung euro, Muehlbauer menilai adopsinya masih lemah karena pengguna ritel tetap lebih memilih aset yang didukung dolar, yang mendapat keuntungan dari likuiditas yang lebih dalam dan peran dolar sebagai satuan hitung utama di dunia aset kripto. Ia melihat potensi lebih besar di sisi institusional, terutama untuk penyelesaian kas perusahaan dan pembiayaan perdagangan di Eropa, tapi tidak menjadi tantangan besar bagi dominasi dolar.

Federico Variola, CEO Phemex, mengutarakan pendapat serupa melalui struktur pasar. Ia mengatakan perlombaan stablecoin berbasis Eropa masih terhambat karena “kita masih sangat terbiasa bertransaksi dengan aset yang didominasi USD.” Menurutnya, permintaan untuk jaminan euro lebih lemah karena pasar kripto besar seperti perpetual futures masih sangat bergantung pada stablecoin yang terhubung ke dolar. Ia juga menyampaikan bahwa stablecoin euro “tidak memungkinkan platform untuk berbagi APY dengan pengguna,” sehingga stablecoin euro kurang kompetitif di decentralized finance.

Aranda juga memperkirakan Eropa akan bersaing lewat kepercayaan dan regulasi, bukan kecepatan. “Akan ada lebih sedikit pemain, regulasi ketat, kemungkinan didukung oleh bank,” tuturnya. “Pertanyaan yang sebenarnya bukan siapa yang meluncurkan duluan, tapi siapa yang bisa meraih kepercayaan di sistem yang memprioritaskan kontrol dibanding pertumbuhan.”

Data secara luas mendukung pandangan tersebut. ECB menyampaikan tahun lalu bahwa stablecoin berbasis dolar menyumbang sekitar 99% kapitalisasi pasar stablecoin global, sedangkan stablecoin berdenominasi euro tetap sangat kecil. Walau ada pertumbuhan baru-baru ini, Reuters melaporkan nilai stablecoin euro masih hanya beberapa ratus juta US$ dalam nilai pasar, jauh di bawah stablecoin dolar.

Untuk stablecoin yang didukung yen dan pound, Muehlbauer dan Aranda sependapat. Keduanya melihat itu sebagai produk lokal atau bersifat khusus, bukan pesaing global. Seperti kata Aranda, “Stablecoin memperkuat mata uang terkuat – bukan yang paling maju secara teknologi. Dan saat ini, itu masih dolar, dengan selisih yang sangat besar.”

Pemikiran Akhir

Stablecoin kini semakin terlihat sebagai use case dunia nyata paling kuat dari aset kripto karena stablecoin benar-benar menyelesaikan masalah keuangan nyata lewat produk yang sudah bisa langsung digunakan masyarakat. Stablecoin bisa memindahkan nilai dengan cepat, murah, dan 24 jam nonstop. Stablecoin juga sangat cocok untuk pembayaran lintas negara, manajemen kas perusahaan, dan akses dolar di luar AS.

Itu tidak berarti kisahnya sederhana. Stablecoin juga menimbulkan isu lebih rumit terkait dolar AS-isasi, risiko cadangan, konsentrasi penerbit, dan pengawasan keuangan. Tapi mungkin justru ketegangan inilah yang membuat stablecoin semakin menonjol. Yang pasti, stablecoin kini sudah menjadi bagian dari diskusi tentang bagaimana uang bergerak di ekonomi digital.

Penafian: Artikel yang diterbitkan ulang di situs web ini bersumber dari platform publik dan disediakan hanya sebagai informasi. Artikel tersebut belum tentu mencerminkan pandangan MEXC. Seluruh hak cipta tetap dimiliki oleh penulis aslinya. Jika Anda meyakini bahwa ada konten yang melanggar hak pihak ketiga, silakan hubungi crypto.news@mexc.com agar konten tersebut dihapus. MEXC tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keaktualan konten dan tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. Konten tersebut bukan merupakan saran keuangan, hukum, atau profesional lainnya, juga tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi atau dukungan oleh MEXC.

Starter Gold Rush: Win $2,500!

Starter Gold Rush: Win $2,500!Starter Gold Rush: Win $2,500!

Start your first trade & capture every Alpha move