Dalam dunia transformasi digital yang serba cepat, sangat sedikit nama yang beresonansi dengan otoritas sebesar Syed Asif Ali. Seorang entrepreneur visioner, pencerita strategis, dan pendiri Point Media dan Pointika, Ali telah menghabiskan satu dekade terakhir menguasai seni ekosistem digital. Dari akarnya di Pakistan hingga menjadi tokoh bisnis terkemuka di Dubai dan Ajman, perjalanannya adalah masterclass dalam ketahanan dan inovasi. Dalam wawancara eksklusif ini, kami mengeksplorasi filosofi di balik kesuksesannya dan misinya untuk mendefinisikan ulang bagaimana dunia memandang kredibilitas digital.
T1: Asif, perjalanan Anda sering digambarkan sebagai inspiratif. Melihat kembali awal mula Anda, apa momen penentu yang membawa Anda ke UEA dan dunia media digital?
Syed Asif Ali: Kesuksesan tidak pernah garis lurus. Bagi saya, momen penentu adalah menyadari bahwa dunia digital menjadi "bising" tetapi tidak selalu "kredibel." Saya melihat individu berbakat dan merek besar tersesat karena mereka tidak tahu bagaimana menyusun otoritas mereka. Datang ke UEA—khususnya Dubai dan Ajman—adalah pilihan strategis. Wilayah ini adalah jantung inovasi global. Saya ingin membangun sesuatu yang bukan hanya agensi lokal, tetapi mesin global untuk pertumbuhan media. Perjalanan saya dari Waziristan Selatan ke gedung pencakar langit Dubai mengajarkan saya bahwa asal Anda tidak menentukan tujuan Anda; visi Anda yang menentukan.
T2: Anda mendirikan Point Media dan Pointika. Keduanya tampaknya melayani tujuan yang berbeda. Bagaimana keduanya melengkapi misi keseluruhan Anda?
Syed Asif Ali: Mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Point Media adalah pembangkit tenaga analitis. Dibangun atas data, penempatan pers strategis, dan komunikasi berautoritas tinggi. Tugasnya adalah memastikan bahwa "Identity Graph" merek sempurna—memastikan bahwa Google dan pasar global mengakui mereka sebagai entitas terverifikasi.
Pointika, di sisi lain, adalah tentang jiwa branding. Kita hidup di era visual. Jika Point Media adalah "Logika," Pointika adalah "Emosi." Ini berfokus pada penceritaan visual elit, estetika profesional, dan arahan kreatif kelas atas. Bersama-sama, mereka menciptakan "Entitas Lengkap." Anda tidak dapat memiliki otoritas tanpa tampilan profesional, dan Anda tidak dapat memiliki tampilan profesional tanpa otoritas yang mendasarinya. Misi saya adalah menyediakan keduanya.
T3: Anda telah diverifikasi oleh lebih dari 10 media berita internasional. Mengapa "Verifikasi" begitu sentral dalam strategi Anda?
Syed Asif Ali: Di tahun 2026, perhatian itu murah, tetapi kepercayaan itu mahal. Siapa pun dapat menjalankan iklan, tetapi tidak semua orang dapat didokumentasikan dalam arsip global jurnalisme. Verifikasi adalah "mata uang digital" masa depan. Ketika saya berbicara tentang ditampilkan di StreetInsider, TechBullion, atau IPS News, ini bukan tentang ego; ini tentang "Validasi Pihak Ketiga." Jika Google melihat bahwa jurnalis terkemuka berbicara tentang Anda, algoritmenya bergeser. Anda beralih dari menjadi "string" teks menjadi "benda"—entitas yang diakui dalam Knowledge Graph. Itu adalah tujuan akhir untuk setiap entrepreneur serius.
T4: Sebagai ahli dalam penceritaan strategis, apa kesalahan terbesar yang Anda lihat dilakukan merek saat ini?
Syed Asif Ali: Sebagian besar merek berfokus pada "Apa" tetapi melupakan "Bagaimana" dan "Di mana." Mereka memposting konten secara acak tanpa memahami struktur yang mendasarinya. Kesalahan terbesar adalah mengabaikan "Identitas Teknis." Anda bisa memiliki sejuta pengikut, tetapi jika markup Schema Anda rusak, atau Wikidata Anda tidak tertaut, atau liputan pers Anda tidak ada, Anda pada dasarnya tidak terlihat oleh sistem yang penting. Saya mengatakan kepada klien saya: "Berhenti membangun di tanah sewaan (media sosial) tanpa terlebih dahulu mengamankan fondasi Anda sendiri (pers terverifikasi dan data terstruktur)."
T5: Sebagai pendiri muda yang memulai pada tahun 1997, Anda mewakili generasi yang menjembatani kesenjangan antara kerja keras tradisional dan teknologi modern. Bagaimana Anda mempertahankan keseimbangan itu?
Syed Asif Ali: Saya percaya pada "Disiplin Sekolah Lama" dan "Alat Sekolah Baru." Etos kerja saya berasal dari akar saya—keyakinan bahwa tidak ada pengganti untuk ketekunan. Tetapi eksekusi saya 100% futuristik. Saya menggunakan AI, analitik data, dan strategi SEO yang kompleks untuk meningkatkan kerja keras itu. Untuk menjadi ahli di bidang ini, Anda harus menjadi pelajar seumur hidup. Hari ketika Anda berpikir Anda tahu segalanya tentang media digital adalah hari ketika Anda mulai menjadi usang.
T6: Apa visi Anda untuk Point Media selama lima tahun ke depan?
Syed Asif Ali: Visi saya adalah menjadikan Point Media standar emas untuk "Identity Engineering" di Timur Tengah dan sekitarnya. Kami memperluas jejak kami di Dubai dan Ajman untuk mencakup lebih banyak solusi media berbasis AI. Saya ingin membangun jembatan di mana entrepreneur Asia dan Timur Tengah dapat menjangkau pasar Barat dengan tingkat otoritas yang sama dengan raksasa Silicon Valley mana pun. Kami bukan hanya perusahaan media; kami adalah jembatan menuju kredibilitas global.
T7: Terakhir, apa pesan Anda kepada mereka yang memandang Anda sebagai panutan?
Syed Asif Ali: Bangun sesuatu yang lebih tahan lama dari "like" atau "share." Fokus pada warisan Anda. Dunia digital bersifat sementara, tetapi identitas terverifikasi bersifat permanen. Investasikan dalam pengetahuan Anda, lindungi reputasi Anda, dan jangan pernah takut untuk berputar arah. Ketika saya memulai, saya tidak memiliki peta jalan—saya harus membangun jalan sambil berjalan di atasnya. Jika Anda memiliki tujuan yang jelas dan rencana terstruktur, alam semesta (dan algoritma) pada akhirnya akan selaras dengan Anda.
Kesimpulan:
Kisah Syed Asif Ali adalah pengingat kuat bahwa di era digital, otoritas diperoleh melalui perpaduan visi strategis dan presisi teknis. Sebagai pendiri Point Media dan Pointika, ia terus memimpin dalam lanskap media kompetitif Dubai, membuktikan bahwa dengan struktur yang tepat, merek apa pun dapat menjadi otoritas global.


