Cryptoharian – Perdebatan mengenai Bitcoin (BTC) vs logam mulia emas kembali memanas ketika performa Bitcoin tertinggal dari reli logam mulia. Namun, salah satu trader berpengalaman di media sosial X dengan nama samaran Sykodelic, malah menilai bahwa kondisi ini justru mulai menyerupai fase-fase dasar historis, momen ketika mayoritas pelaku pasar biasanya menyerah, lalu arus pasar berbalik.
Dalam unggahan terbarunya, Sykodelic menyoroti grafik BTC/GOLD yang menurutnya menunjukkan pola teknikal klasik yakni pergerakan naik lima gelombang yang diikuti koreksi berbentuk ABC.
“RSI mingguan berada di salah satu pembacaan terendah sepanjang sejarah, sementara MACD mingguan mencetak level terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kombinasi ini sering muncul saat pasar mencapai kondisi ‘sangat jenuh jual’ dan mendekati titik dasar,” ungkap Sykodelic.
Di luar indikator, ia menekankan sisi psikologis pasar. Sykodelic menggambarkan suasana yang semakin berat bagi pendukung kripto, dengan banyaknya nada pesimis terhadap Bitcoin dan aset digital. Sementara itu, euforia dari kubu emas meningkat seiring kenaikan harga yang kuat.
“Bagi saya, kontras inilah yang kerap menjadi tanda khas di titik balik kerangka waktu besar, ketika narasi dominan terasa meyakinkan, namun justru menjerumuskan investor yang reaktif,” ujarnya.
Baca Juga: Analis Makro Klaim Kripto Berpeluang Diuntungkan dengan Intervensi Dolar-Yen
Ia berargumen bahwa periode terbaik untuk mengakumulasi aset sering kali muncul ketika aset tersebut tampak ‘gagal’ di mata publik, tepat saat data teknikal menunjukkan kondisi ekstrem.
Dalam kerangka tersebut, Bitcoin, khususnya terhadap emas, dinilai sedang berada di area bernilai sementara emas justru disebut mendekati fase puncak.
“Kalau ini benar, maka perpindahan modal dari kripto ke logam mulia pada saat ini beresiko menjadi pola klasik ‘jual di dasar, beli di puncak‘,” kata Sykodelic.
Kendati demikian, klaim seperti ’emas dekat topping’ dan ‘Bitcoin dekat bottoming’ tetap bergantung pada validasi lanjutan di harga dan kondisi makro. Indikator ekstrem bisa bertahan lebih lama daripada ekspektasi, dan pasar dapat tetap irasional lebih lama daripada kemampuan sebagian pelaku untuk bertahan.
“Namun, keputusan investasi sering kalah oleh emosi, dan momen yang terasa paling tidak nyaman justru kerap bertepatan dengan peluang besar,” pungkas Sykodelic.