Cryptoharian – Bitcoin (BTC) melemah dan sempat turun ke kisaran US$ 88.460, memicu perhatian trader jangka pendek yang menunggu peluang lanjutan penurunan. Namun, salah satu analis teknikal terkenal bernama Lennaert Snyder menyatakan bahwa ia tidak mengambil posisi pada penurunan kali ini karena satu alasan sederhana, yakni set-up yang ia tunggu tidak terbentuk.
Menurut Snyder, penurunan terjadi setelah harga ‘melewati’ area likuiditas yang biasanya ia jadikan patokan untuk mengeksekusi. Ia menyebut aturan pribadinya jelas dan tidak bisa ditawar, yakni likuiditas terlebih dulu, lalu break of structure berrprobabilitas tinggi, baru eksekusi. Karena urutan itu tidak terjadi, maka ia memilih tidak masuk pasar untuk saat ini.
“Dalam kasus ini artinya, tidak ada trigger, tidak ada trader,” ungkap Snyder dalam salah satu pembaruan di media sosial X, Kamis (23/1/2026).
Ia menekankan bahwa keputusan untuk tidak entry bukan berarti pandangan bearish-nya gugur. Skenario short masih terbuka, hanya saja Snyder ingin pasar ‘memberi bola’ sesuai sistemnya, bukan memaksakan entry saat sinyalnya belum lengkap.
Dirinya kini menunggu salah satu skenario spesifik, yakni jika Bitcoin mendapat dorongan naik sekali lagi menuju area likuiditas di atas US$ 90.540, ia akan mempertimbangkan short setelah terjadi market structure break.
“Sebelum dump berakhir, ada sapuan likuiditas internal yang bisa jadi argumen bagi sebagian trader. Tetapi bagi sistemnya, itu belum cukup kuat untuk dianggap sebagai pemicu utama,” ujarnya.
Jika pergerakan yang ia tunggu tersebut tidak terjadi hari ini atau besok, Snyder menegaskan kemungkinannya untuk membiarkan harga bergerak tanpa dirinya dan kembali memantau pada awal pekan untuk peluang baru.
Baca Juga: Analis: Koreksi Bitcoin Lebih Mirip 2019, Bukan Bear Market 2018 atau 2022
Sebelumnya, Snyder juga sempat memposting soal Bitcoin yang masih dalam tren bearish-nya, meski harga untuk sementara mampu menahan level rendahnya. Salah satu hal yang membuatnya waspada, yakni munculnya wick besar di timeframe 4 jam, dan wick seperti ini biasanya menjadi ‘magnet likuiditas’ yang sering kembali ditarik pasar.
Dengan konteks itu, Snyder mengatakan ia hanya fokus pada dua skenario untuk saat ini, dengan bias yang masih sedikit bearish. Untuk skenario short, ia menunggu Bitcoin mengambil likuiditas di atas area resistensi sekitar US$ 90.600, lalu baru mencari entry setelah terjadi market structure break.
“Target yang saya incar berada di area imbalance sekitqar US$ 86.200. Ini adalah zona tujuan realistis jika tekanan jual berlanjut,” kata Snyder.
Sementara itu, Snyder tidak terlalu tertarik membuka posisi long, karena itu berarti melawan tren. Namun ia tetap menyiapkan rencana jika pasar memberi sinyal kuat, yakni bila terjadi reclaim H4 yang meyakinkan (terutama saat sesi New York) di atas resistensi sekitar US$ 91.200, ia akan mulai mempertimbangkan peluang long dengan pendekatan membangun higher lows.
“Namun satu hal yang perlu diperhatikan bahwa jika secara statistik skenario long memiliki probabilitas rendah dalam kondisi saat ini,” paparnya.
Snyder juga menggambarkan pergerakan harga pekan ini sebagai ‘madhouse’, di mana pergerakannya liar dan tidak ramah untuk entry. Ia menyebut ketegangan geopolitik memicu pergerakan tajam yang sering ‘meniggalkan’ titik masuk, membuat peluang trade berkualitas jadi langka.
“Di minggu-minggu ini, disiplin adalah salah satu hal penting. Lebih baik menunggu set-up berkualitas alpha sesuai sistem daripada memaksakan trade di kondisi yang tidak ideal,” pungkas Snyder.