Cryptoharian – Salah satu pengamat pasar mata uang kripto di media sosial X, yakni The DeFi Investor mengingatan agar para investor tidak terjebak ambisi menangkap titik terendah pasar secara presisi. Menurutnya, upaya ‘menebak bottom‘ justru sering berakhir dengan satu skenario klasik, yakni momen terbaik terlewat, lalu harga keburu naik dan investor hanya bisa menonton dari pinggir lapangan.
Alih-alih memburu harga paling murah, ia menyarankan fokus pada hal yang lebih realistis dan terukur. Hal tersebut adalah menurunkan rata-rata pembelian dan membangun posisi di level yang masuk akal, sehingga resiko ‘membeli di puncak’ bisa ditekan.
Dalam ulasannya, ia memaparkan empat hal yang selama ini diperhatikan ketika memutus apakah sebuah penurunan layak dibeli. Selain itu, satu hal yang tak kalah penting adalah di level harga mana pengamat tersebut siap membeli.
Pertama, The DeFi Investor menekankan pentingnya katalis besar. Dalam pandangannya, reli besar hampir selalu ditopang cerita yang cukup kuat untuk menarik gelombang pembeli baru. Ia mencontohkan bagaimana Bitcoin pernah terdorong oleh hype ETF spot, euforia politik di Amerika, sehingga narasi baru yang sempat mengangkat kepercayaan pasar.
“Pada intinya, pasar bergerak bukan hanya oleh angka, tetapi juga oleh psikologi, dan psikologi butuh cerita,” ungkap The DeFi Investor.
Namun untuk kondisi saat ini, ia mengaku belum melihat katalis yang cukup besar untuk memancing minat beli baru pada Bitcoin, sehingga ia memilih menjaga eksposur tetap ringan meski membuka kemungkinan ada pantulan jangka pendek.
“Untuk yang kedua, menurut saya level support besar Bitcoin sebagai ‘pijakan’ paling praktis untuk strategi beli saat koreksi. Meski saya bukan penggemar berat analisa teknikal, namun dasar-dasarnya tetaplah berguna, terutama kemampuan mengidentifikasi area support-resisten yang berulang kali diuji harga,” ujarnya.
Dari situ, pendekatannya bukan lagi mengejar momen, melainkan menyiapkan rencana untuk memasang order beli di beberapa level support yang sudah ditandai, lalu membiarkan pasar ‘menghampiri’ order tersebut.
Baca Juga: Galaxy Digital Terima $100 Juta untuk Dana Kripto Baru
Dirinya menilai cara ini membantu investor menambah eksposur saat harga melemah tanpa harus menebak seberapa dalam penurunannya.
Masuk poin ketiga, ia menjadikan altseason index sebagai barometer untuk altcoin. Ketika indeks ini rendah, khususnya di bawah 25, itu biasanya menandakan altcoin berada dalam kondisi ‘tertekan’ relatif terhadap Bitcoin.
“Pada fase seperti ini, saya cenderung lebih nyaman mulai mencicil secara bertahap (DCA) pada aset yang sudah masuk watchlist. Sebaliknya, ketika indeks sudah terlalu tinggi, ia melihatnya sebagai sinyal untuk lebih defensif dan mulai mempertimbangkan realisasi keuntungan,” kata The DeFi Investor.
Terakhir, ia menyoroti faktor makro yang sering diabaikan investor ritel, yakni apakah pasar sedang risk-on atau risk-off. Dalam hal ini, pengamat tersebut menyarankan perbandingan sederhana antara kinerja Bitcoin dan SnP 500 dalam jangka 3-6 bulan. Jika Bitcoin konsisten mengungguli SnP 500, ia menilai itu cenderung menandakan iklim risk-on mulai terbentuk.
“Sebaliknya, bila Bitcoin tertinggal, biasanya pasar masih defensif dan minat pada aset beresiko belum pulih. Situasi ketika saham terkoreksi namun Bitcoin relatif tahan bisa menjadi sinyal bahwa tekanan jual kripto mulai kehabisan tenaga,” pungkas The DeFi Investor.