Cryptoharian – Pasar kripto kembali terguncang setelah Amerika Serikat resmi memasuki partial government shutdown pada Sabtu (31/1/2026) dini hari waktu setempat, usai Kongres Amerika gagal menuntaskan kesepakatan pendanaan sebelum tenggat.
Di senat Amerika, paket pendanaan berhasil disetujui menjelang batas waktu. Namun DPR Amerika disebut baru akan mengambil suara paling cepat Senin malam, sehingga jeda politik itu langsung memicu mode ‘risk-off’ di berbagai pasar.
Pusat tarik-menarik kali ini berada pada pendanaan Department of Homeland Security (DHS). Dalam skema yang disepakati, pendanaan DHS dipisahkan untuk sementara waktu, memberi ruang negosiasi tambahan, sementara bagian besar pemerintahan lainnya didorong untuk dibiayai hingga September. Namun karena persetujuan akhir masih menunggu di DPR, situasi ‘menggantung’ ini cukup untuk mendorong pelaku pasar mencari aset yang dianggap lebih aman.
Dalam kondisi tersebut, kapitalisasi pasar kripto dilaporkan turun sekitar 3,25 persen ke kisaran US$ 2,73 triliun. Penurunan ini ikut menekan aset utama, yakni Bitcoin disebut sempat jatuh di bawah US$ 82.000 dan membuka ruang pembahasan target psikologis berikutnya di sekitar US$ 70.000 bila tekanan jual berlanjut.
Baca Juga: Jerome Powell Turun Tahta, Apakah Penggantinya Bakal Pro Kripto?
Ethereum juga melemah di bawah area support penting US$ 2.700, memicu spekulasi bahwa pasar bisa menguji level US$ 2.000 jika pemulihan gagal terbentuk. Sementara XRP dikabarkan tergelincir di bawah US$ 1,70 seiring melemahnya sentimen di seluruh sektor.
Reuters mencatat tekanan jual ikut dipicu kekhawatiran soal likuiditas, di tengah narasi aset spekulatif seperti kripto selama ini diuntungkan ketika kondisi uang longgar, dan bisa terpukul saat ekspektasi kebijakan berubah.
Konteks makronya juga sedang tidak ramah. Reuters menyoroti bahwa penguatan dolar belakangan terkait sentimen pasar setelah Kevin Warsh dipilih sebagai ketua bank sentral berikutnya. Di saat yang sama, kripto kian terlihat ‘tertinggal’ dibanding reli aset tradisional tertentu, sehingga setiap guncangan politik, seperti shutdown, mudah berubah menjadi alasan untuk mengurangi resiko.
Secara teknikal, perhatian jangka pendek tertuju pada kemampuan Bitcoin mempertahankan area US$ 82.000 serta upaya Ethereum merebut kembali US$ 2.700; kegagalan bertahan di level-level ini dapat menggeser fokus pasar ke support yang lebih rendah.

