Cryptoharian – Salah satu analis di media sosial X yang dikenal dengan dengan nama alias ‘Bull Theory‘, memberikan update terbaru prediksi harga Bitcoin (BTC). Dalam postingan tersebut, ia menilai bahwa Bitcoin sedang berada di fase penentuan, dengan area US$ 75.000 menjadi level support mingguan yang paling penting untuk membaca arah berikutnya.
Menurutnya, zona ini baru saja diuji ulang, dengan respon harga di sekitar level tersebut akan menentukan apakah pasar mampu membangun pemulihan, atau justru membuka ruang penurunan yang lebih dalam.
Dalam pembacaan timeframe mingguan, Bitcoin kini diperdagangkan di bawah moving average 20 minggu (20W) dan 50 minggu (50W), yang biasanya dipandang sebagai sinyal melemahnya momentum.
“Namun, sinyal moving average tidak selalu berarti bear market langsung dimulai. Terkadang itu muncul terlambat setelah koreksi besar,” ungkap Bull Theory.
Karena itu menurutnya, penentu utamanya bukan sekedar posisi MA, melainkan apakah Bitcoin mampu berhenti membuat lower di area US$ 75.000 dan mulai membentuk struktur higher low.
Dalam penjelasannya, analis tersebut memetakan dua skenario yang ia anggap paling realistis.
Baca Juga: Dipengaruhi Tren Negatif, Harga Uang Kripto Ethereum Jatuh 10%
Skenario pertama, yakni Bitcoin bertahan di area US$ 75.000 dan low April 2025 tidak ditembus. Jika ini terjadi, penurunan menuju US$ 75.000 diperlakukan sebagai koreksi dalam tren besar, bukan patahnya struktur.
“Dalam skenario ini, kunci pemulihan ada pada kemampuan Bitcoin merebut kembali level teknikal yang lebih tinggi, terutama 50W MA yang disebut berada di sekitar US$ 100.400,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa penutupan mingguan yang ‘bersih’ di atas area itu akan menjadi sinyal bahwa momentum kembali berpihak pada pembeli, sekaligus membuka jalan menuju area US$ 100.000.
Sementara itu untuk skenario kedua, yang mana lebih sederhana namun lebih keras juga. Menurutnya, jika Bitcoin kehilangan low April 2025 dan support US$ 75.000 gagal bertahan di penutupan mingguan, maka struktur higher low dianggap runtuh.
“Dalam kondisi ini, pasar akan mulai mengincar US$ 50.000 – US$ 60.000 sebagai area reset berikutnya,” pungkas Bull Theory.

