Laporan pendapatan Robinhood untuk Q4 2025 memicu reaksi tajam di pasar, karena harga saham perusahaan turun sekitar 8% setelah pendapatan tercatat di bawah ekspektasi.
Namun, hal yang paling mencolok dari laporan ini bukanlah penurunan pendapatan dari trading aset kripto, melainkan semakin besarnya peran prediction markets dan otomatisasi sebagai pilar strategi Robinhood di masa depan.
Hampir sepertiga dari pertanyaan analis selama laporan pendapatan terfokus pada prediction markets, yang menunjukkan betapa cepat sektor ini beralih dari sekadar fitur eksperimen menjadi potensi lini bisnis utama.
Menurut Sigel, perhatian ini mencerminkan pertumbuhan pesat di industri ini, dengan volume sekarang mencapai lebih dari US$10 miliar per bulan (sekitar US$300–400 juta per hari), hampir setara dengan rata-rata volume taruhan olahraga harian di Amerika Serikat.
Robinhood melaporkan pendapatan bersih Q4 sebesar US$1,28 miliar, di bawah ekspektasi sekitar US$1,35 miliar. Pendapatan berbasis transaksi dan trading aset kripto juga tidak memenuhi perkiraan, dengan pendapatan aset kripto sekitar US$221 juta dibandingkan ekspektasi yang mendekati US$248 juta.
Analis menilai reaksi pasar ini lebih karena ekspektasi yang tinggi dan perlambatan pertumbuhan pada metrik penting, bukan karena kelemahan struktural bisnis perusahaan.
Christian Bolu, analis senior di Autonomous Research, menggambarkan hasil ini memang tampak mengecewakan di permukaan, tapi tetap positif untuk prospek ke depannya.
Namun, ia menegaskan bahwa prospek jangka panjangnya tetap optimistis:
Meski aset kripto masih menjadi segmen penting, analis kini semakin melihat prediction markets dan event contracts bakal mengambil porsi bisnis yang lebih besar di masa depan.
Peluangnya pun sangat besar. Walaupun persaingan dari platform seperti Kalshi dan Polymarket terus meningkat, keunggulan Robinhood dalam distribusi bisa menjadi faktor penentu.
Walau minat makin tinggi, ketidakpastian regulasi tetap menjadi hambatan terbesar bagi ekspansi bisnis. Sigel menekankan bahwa isu ini disoroti secara langsung saat laporan pendapatan berlangsung.
Namun, eksekutif VanEck tersebut mengakui bahwa kurangnya kejelasan aturan memperlambat kemajuan:
Selain produk trading baru, Robinhood juga mulai mengubah operasional internalnya melalui otomatisasi dan artificial intelligence. Dalam konteks inilah, Sigel membagikan salah satu info paling menarik dari panggilan pendapatan:
Perusahaan juga mengotomatisasi alur kerja di bidang rekayasa, sehingga dapat mengoptimalkan seluruh pipeline engineering; mulai dari penulisan kode, review, hingga deployment dan pengujian.
Diperkirakan, hal ini sudah mulai menghasilkan penghematan nyata serta peningkatan efisiensi, yang diproyeksikan mencapai lebih dari US$100,000,000 hanya di tahun 2025.
Pengurangan biaya ini bisa membantu mengimbangi fluktuasi pendapatan yang bersifat siklus, seperti di sektor aset kripto dan perdagangan opsi.
Para analis menyebut Robinhood saat ini sangat berbeda dari aplikasi trading yang dulu populer dalam siklus aset kripto dan saham meme sebelumnya.
Bolu menggambarkan perusahaan ini sebagai “perusahaan yang jauh lebih matang dan sangat beragam,” sambil menunjuk pada:
Diversifikasi seperti ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak analis tetap optimistis meskipun ada volatilitas jangka pendek. Lebih dari 80% analis masih merekomendasikan saham ini untuk dibeli, menurut komentar pasar setelah laporan hasil keuangan dirilis.
Pendapatan terbaru Robinhood semakin menegaskan pergeseran utama: aset kripto mungkin sudah tidak lagi menjadi cerita utama yang mendorong platform ini.
Sebaliknya, fase pertumbuhan berikutnya nampaknya terbentuk di sekitar pasar prediksi, perdagangan opsi, langganan, serta efisiensi berbasis AI. Segmen-segmen ini bisa mengurangi ketergantungan pada volume perdagangan aset kripto yang sangat siklikal.
Jika tren ini berlanjut, laporan pendapatan kali ini mungkin nanti akan lebih dikenang bukan karena pendapatan yang meleset, melainkan karena mengungkap arah baru platform ini ke depan.


