Cryptoharian – Bitcoin (BTC) kembali memasuki fase ‘mengencang’ yang baisanya membuat pasar tegang, yakni pergerakan harganya semakin sempit, seolah diarahkan ke ujung sebuah segitiga. Artinya, momen penentuan arah diperkirakan semakin dekat.
Jika tembus ke atas, target psikologis berikutnya yang mulai dibicarakan adalah area US$ 80.000. Namun jika gagal bertahan dan breakdown terjadi, tekanan bisa membawa harga kembali menguji di bawah US$ 60.000.
Secara teknikal, pola yang terbentuk bisa dibaca sebagai ascending triangle, pola yang secara teori condong bullish karena menunjukkan pembeli perlahan menaikkan pijakan (higher lows) sambil terus menekan area resistance. Memang polanya tidak sempurna, dan ada jejak fakeout di awal. Tetapi setelah itu, struktur pergerakan setidaknya pada “badan candle”, masih terlihat cukup konsisten mengikuti garis tren bawah yang menanjak.
Yang penting, pola seperti ini biasanya tidak menunggu sampai mentok di ujung segitiga. Kalau memang ada breakout, ia sering muncul lebih awal. Itu sebabnya, perhatian utama sekarang adalah apakah harga masih sanggup memantul dari garis tren naik tersebut dan akhirnya menembus area atasnya dengan atas.
Jika ditarik ke time frame harian, segitiga ini terlihat muncul setelah Bitcoin terperosok dari pola sebelumnya, dengan penurunan yang sangat tajam yakni sekitar 32 persen dalam 9 hari.
Sebelumnya juga sempat ada penurunan besar lain sekitar 25 persen dalam 11 hari yang menjadi awal terbentuknya fase konsolidasi (bear flag). Menariknya, setelah drop pertama itu harga sempat ‘berputar-putar’ selama kurang lebih sembilan minggu sebelum akhirnya breakdown lagi ke penurunan terbaru.
Baca Juga: Institusi Mulai Kurangi Risiko, Produk Investasi Kripto Kembali Bocor
Rangkaian ini membuka kemungkinan bahwa pasar belum selesai “mencerna” penurunan, alias Bitcoin masih bisa bergerak sideways dan perlahan naik selama beberapa minggu lagi sebelum memilih arah final. Dalam skenario lain, segitiga naik ini bahkan bisa berubah fungsi menjadi bagian dari pola pelemahan berikutnya, yakni harga mungkin sempat menguat mendekati US$ 80.000, tetapi kemudian berbalik turun lagi dan kembali mengancam area US$ 60.000.
Dari sisi indikator, sinyalnya belum kompak. Stochastic RSI mulai berbelok turun dari area atas, biasanya ini bukan kabar baik untuk bullish jangka pendek karena mengindikasikan momentum beli mulai mendingin. Di sisi lain, MACD masih membangun potensi lanjutan bullish, garisnya masih mengarah untuk mempertahankan cross ke atas, dan histogram hijau yang membesar sering dibaca sebagai momentum naik yang mulai terbentuk.
Kombinasi ini membuat situasi terasa ’50:50′, ada peluang reli, tetapi pasar belum memberikan konfirmasi yang cukup bersih.
Secara struktur, titik yang membuat keadaan tampak rapuh adalah area US$ 69.000, level horizontal besar yang historis karena berkaitan dengan puncak siklus 2021. Harga sempat menyenggol ke bawah level ini, yang bagi banyak trader terasa seperti peringatan awal.
Namun, penentuan tidak terjadi dalam satu-dua jam. Karena ini baru awal pekan, pasar masih punya waktu untuk menutup minggu depan dengan posisi lebih aman.
Jika pada penutupan mingguan Bitcoin benar-benar close di bawah US$ 69.000, itu akan menjadi pukulan untuk kubu bull. Meski begitu, skenario ‘pagar terakhir’ masih ada, yakni area US$ 69.000 sering dipandang sebagai support kuat, dan jika berdekatan dengan 200-week SMA, keduanya bisa membentuk zona pertahanan yang serius.

