Perusahaan cryptocurrency Ripple telah merilis roadmap baru untuk perdagangan aset digital bagi bank dan investor institusional.
Whitepaper yang berjudul "Rencana untuk Perdagangan Aset Digital Korporat" menyajikan kerangka kerja komprehensif yang bertujuan memungkinkan bank, hedge fund, dan lembaga keuangan besar untuk mengakses pasar cryptocurrency dengan cara yang lebih aman, lebih efisien, dan dapat diskalakan.
Laporan Ripple menyatakan bahwa struktur pasar saat ini menciptakan beban operasional yang signifikan dan risiko counterparty bagi investor institusional. Saat ini, lembaga besar terpaksa membuka akun terpisah di bursa yang berbeda, mentransfer dana antar platform, mengelola batas kredit yang berbeda, dan menanggung risiko counterparty terpisah untuk setiap transaksi. Laporan tersebut menunjukkan bahwa masalah atau kebangkrutan pada satu platform (seperti keruntuhan bursa besar di masa lalu) dapat menyebabkan pembekuan dana.
Berita Terkait: Presiden AS Donald Trump Membuat Pernyataan tentang Pembicaraan dengan Iran – "Mereka Belum Mengucapkan Kata-Kata Emas"
Solusi yang diusulkan Ripple adalah model baru yang disebut "Digital Prime Broker" (DPB). Dalam struktur ini, satu prime broker utama akan mengkonsolidasikan likuiditas, bertindak sebagai perantara kredit, dan menyelesaikan posisi pada akhir hari. Tujuannya adalah untuk mengurangi persyaratan modal, menurunkan risiko counterparty, dan meningkatkan efisiensi operasional.
Ripple juga mengusulkan penggunaan XRP Ledger (XRPL) dalam infrastruktur model DPB yang diusulkannya. Melalui batas kredit on-chain dan mekanisme penyelesaian yang lebih cepat, tujuannya adalah netting awal, transparansi yang lebih besar, dan pengurangan risiko sistemik. Pendekatan ini diyakini dapat menciptakan struktur yang mirip dengan struktur prime brokerage matang yang ditemukan di pasar valuta asing (FX) tradisional.
*Ini bukan nasihat investasi.
Lanjutkan Membaca: Ripple (XRP) Merilis Whitepaper tentang Rencana Baru yang Dibuat untuk Bank dan Institusi


