Ketegangan yang meningkat di sekitar Selat Hormuz kembali memaksa para trader aset kripto untuk melihat melampaui fundamental blockchain dan memperhatikan risikKetegangan yang meningkat di sekitar Selat Hormuz kembali memaksa para trader aset kripto untuk melihat melampaui fundamental blockchain dan memperhatikan risik

Bagaimana Guncangan Minyak Bisa Picu Selloff Likuiditas Bitcoin Berikutnya

2026/03/02 02:02
durasi baca 4 menit

Ketegangan yang meningkat di sekitar Selat Hormuz kembali memaksa para trader aset kripto untuk melihat melampaui fundamental blockchain dan memperhatikan risiko ekonomi makro global.

Kurang lebih 20% pasokan minyak dunia melewati jalur maritim sempit antara Iran dan Oman setiap harinya. Walaupun belum ada penutupan sepenuhnya, aktivitas militer yang meningkat di wilayah itu sudah membuat premi asuransi risiko perang melonjak tajam.

Minyak, Imbal Hasil, dan Likuiditas US$2 Triliun: Kenapa Aset Kripto Bisa Jadi yang Pertama Mengalami Breakdown

Premi untuk kapal tanker minyak naik lebih dari 50%. Sementara itu, biaya asuransi untuk kapal senilai US$100 juta melonjak dari sekitar US$250.000 menjadi US$375.000 untuk setiap perjalanan.

Kenaikan risiko pengiriman saja, bahkan tanpa adanya blokade resmi, sudah cukup membuat kekhawatiran mengenai gangguan pasokan. Beberapa analis memperkirakan harga minyak mentah bisa melonjak ke US$120–US$130 per barel jika gangguan berkepanjangan terjadi.

Bagi pasar kripto, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar soal energi.

Transmisi Inflasi ke Likuiditas

Kenaikan harga minyak sebesar itu kemungkinan akan membakar kembali ekspektasi inflasi di saat pasar telah bersiap-siap untuk pelonggaran kebijakan.

Harga minyak mentah yang lebih tinggi akan berdampak langsung pada biaya transportasi, manufaktur, dan barang konsumsi, sehingga mendorong naik data CPI global.

Jika ekspektasi inflasi naik, bank sentral, termasuk The Fed, bisa saja menunda atau mengurangi potensi pemangkasan suku bunga yang selama ini dinantikan. Penyesuaian harga tersebut kemungkinan akan membuat yield Treasury ikut naik.

Dan yield adalah titik awal risiko bagi aset kripto.

Yield yang naik akan memperketat likuiditas global. Saat obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang makin menarik, modal sering berpindah dari aset spekulatif. Triliunan dana di obligasi dan saham yang sensitif terhadap suku bunga bisa mengalami penyesuaian harga jika yield melonjak di tengah kekhawatiran inflasi yang muncul kembali.

Bitcoin selama ini diperdagangkan sebagai aset likuiditas beta tinggi saat siklus pengetatan berlangsung. Dalam periode di mana yield riil naik, aset digital biasanya cenderung underperform karena leverage terurai dan biaya pendanaan meningkat.

Dengan kata lain, kripto tidak membutuhkan bencana geopolitik untuk anjlok. Cukup hanya dengan likuiditas yang mengetat.

Peringatan di Media Sosial Memperkuat Volatilitas

Beberapa komentator aset kripto terkemuka sudah memperingatkan potensi lonjakan volatilitas yang segera terjadi. Akun-akun seperti DeFiTracer dan 0xNobler menyebut situasi di Selat Hormuz sebagai “titik balik” makro ekonomi, sembari menggambarkan rangkaian reaksi berantai:

Peta yang menunjukkan titik kritis Selat HormuzSelat Hormuz antara Iran dan Oman mewakili titik kritis bagi pasokan energi global (CryptoRover)

Sementara itu, Merlijn the Trader menyoroti risiko tambahan. Analis tersebut menyebut adanya potensi shock hashrate jika infrastruktur energi di Iran, yang menurut laporan merupakan pusat Bitcoin mining berbiaya rendah, mengalami gangguan.

Walau masih bersifat spekulatif, narasi ini menambah ketidakpastian yang lebih luas terkait dinamika suplai dan stabilitas jaringan.

Meski begitu, tidak semua suara politik menunjukkan kekhawatiran. Presiden Donald Trump secara terbuka berkomentar bahwa dirinya “not concerned” tentang situasi di Selat Hormuz.

Tetapi, pasar biasanya lebih responsif terhadap yield obligasi ketimbang jaminan politisi.

Risiko Deleveraging Aset Kripto

Struktur pasar derivatif kripto menambah lapisan fragilitas baru. Leverage biasanya menumpuk di masa tenang, dan shock makro secara tiba-tiba bisa memicu likuidasi beruntun.

Jika yield Treasury melonjak bersamaan dengan harga minyak, posisi leverage di Bitcoin dan altcoin bisa terurai sangat cepat.

Aset berisiko tinggi seperti saham berkapitalisasi kecil, saham teknologi bertumbuh tinggi, dan aset kripto biasanya yang paling pertama tertekan ketika likuiditas mengetat.

Tidak seperti pasar tradisional, perdagangan kripto berlangsung 24 jam 7 hari, sehingga reaksi bisa langsung terjadi dan bahkan lebih besar.

Inilah alasan para trader kini juga memperhatikan pergerakan futures minyak dan pasar obligasi sebagai indikator utama. De-eskalasi sementara bisa menstabilkan harga minyak dan mengembalikan minat risiko.

Tapi, gangguan yang berlangsung terus-menerus bisa mengubah guncangan energi menjadi masalah likuiditas yang lebih luas.

Sesi perdagangan yang akan datang, mulai Senin, bisa menentukan apakah situasi ini tetap sekadar gangguan geopolitik atau malah menjadi pemicu penurunan harga aset kripto yang digerakkan oleh faktor makro berikutnya.

Peluang Pasar
Logo Cardano
Harga Cardano(ADA)
$0.2724
$0.2724$0.2724
-2.78%
USD
Grafik Harga Live Cardano (ADA)
Penafian: Artikel yang diterbitkan ulang di situs web ini bersumber dari platform publik dan disediakan hanya sebagai informasi. Artikel tersebut belum tentu mencerminkan pandangan MEXC. Seluruh hak cipta tetap dimiliki oleh penulis aslinya. Jika Anda meyakini bahwa ada konten yang melanggar hak pihak ketiga, silakan hubungi crypto.news@mexc.com agar konten tersebut dihapus. MEXC tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keaktualan konten dan tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. Konten tersebut bukan merupakan saran keuangan, hukum, atau profesional lainnya, juga tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi atau dukungan oleh MEXC.