Selamat datang di US Crypto News Morning Briefing—ringkasan penting mengenai perkembangan utama di dunia aset kripto untuk hari ini.
Silakan ambil kopi—karena meskipun berita utama penuh dengan perang, gejolak harga minyak, dan kekhawatiran AI, seorang ahli strategi Wall Street berkata bahwa kepanikan mungkin saja sudah diperhitungkan pasar. Di balik volatilitas bulan Februari, perubahan yang lebih tenang sepertinya mulai muncul saat bulan Maret menguji apakah rasa takut memang sudah melebihi kenyataan.
Saat ketegangan geopolitik meningkat dan investor mencoba memahami Februari yang penuh gejolak, Tom Lee justru mengambil langkah berlawanan: menurutnya, Maret bisa menjadi awal reli penting di saham dan aset kripto.
Kepala Riset Fundstrat Global Advisors ini percaya pasar kembali bereaksi pada berita utama, bukan pada faktor fundamental.
Meski banyak yang takut konflik di Timur Tengah semakin memanas dan harga minyak kembali tidak stabil, Lee menegaskan bahwa sejarah lebih sering menunjukkan pasar mampu bertahan, bukan mundur.
Pendapat Lee bertumpu pada pola pasar yang sudah sering terjadi: saham biasanya turun saat ketegangan geopolitik meningkat, namun pulih ketika ketidakpastian mencapai puncaknya.
Meskipun lonjakan volatilitas sempat mengguncang investor, Lee tidak melihat adanya kerusakan struktural dalam ekonomi AS. Pada periode geopolitik sebelumnya, pasar umumnya stabil kembali setelah skenario terburuk tidak menjadi kenyataan.
Pandangannya menunjukkan koreksi di Februari lebih disebabkan oleh sentimen, bukan tekanan sistemik, sehingga membuka peluang reli di bulan Maret.
Pasar energi tetap menjadi perhatian utama investor. Kenaikan harga minyak mentah mengancam rantai pasokan, membebani konsumen, dan membangkitkan kembali ketakutan pada inflasi.
Lee tidak menampik dampak inflasi tersebut. Ia menuturkan bahwa minyak memengaruhi hampir seluruh sektor ekonomi global. Tapi, sejarah menunjukkan guncangan minyak baru menyebabkan resesi ketika pertumbuhan ekonomi sudah rapuh sebelumnya.
Bukannya pertanda resesi, Lee melihat lonjakan harga minyak hanya sebagai gejolak harga yang bersifat sementara. Walaupun dapat memengaruhi sentimen dan psikologi konsumen di tengah kekhawatiran inflasi, menurutnya, gejolak ini tidak akan secara mendasar menggagalkan pertumbuhan ekonomi AS.
Yang terpenting, Lee menilai volatilitas akibat energi bisa mendorong para pengambil kebijakan untuk bersikap lebih akomodatif.
Bukannya mengartikan kenaikan harga minyak sebagai alasan memperketat kebijakan, Lee berpendapat The Fed mungkin justru memilih sikap dovish jika biaya energi berpotensi melemahkan aktivitas ekonomi. Ini sejalan dengan pernyataan terbaru mantan Menteri Keuangan Janet Yellen.
Menurut Lee, para pengambil kebijakan kemungkinan akan lebih fokus menjaga pertumbuhan ekonomi daripada sekadar bereaksi pada angka inflasi di berita utama. Ini mirip dengan pernyataan terbaru dari Profesor Ekonomi Steve Hanke kepada BeInCrypto.
Jika dinamika ini terjadi, kondisi itu bisa menjadi latar belakang yang mendukung aset berisiko hingga musim semi nanti.
Lee membawa tesis reli ini bukan hanya ke saham, tapi juga ke aset digital. Ia percaya saham teknologi, “Magnificent Seven”, dan aset kripto kini memasuki “tahap akhir” pembentukan harga terendahnya.
Meski mengakui pasar masih dianggap sebagai crypto winter, ia menyoroti fundamental yang semakin menguat di bawah permukaan.
Untuk Ethereum, Lee menuturkan bahwa aktivitas tokenisasi yang semakin berkembang, termasuk peluncuran dana tokenisasi yang bertahap, sedang membangun nilai jangka panjang.
Bila semakin banyak aktivitas ekonomi pindah ke jaringan Ethereum, ia percaya kenaikan harga akan mengikuti. Ini bisa terjadi ketika modal mulai berotasi kembali dari aset keras tradisional seperti emas dan perak.
Kesimpulannya, Lee melihat perbedaan antara harga dengan perkembangan fundamental sebagai hal yang hanya sementara.
Kekhawatiran tentang pelebaran credit spread dan tekanan pada kredit swasta sempat memicu pembicaraan soal risiko perlambatan pertumbuhan yang lebih luas. Tapi, Lee tetap tidak yakin dengan hal itu.
Ia mengacu pada indikator seperti tingkat penolakan truk sebagai bukti bahwa ekonomi bisa jadi malah stabil atau bahkan mulai melaju lebih cepat, alih-alih melambat.
Bagi dirinya, Februari “terasa lebih buruk daripada kenyataannya.” Sepanjang bulan itu, pasar memang turun tipis, namun mereka sebenarnya hanya menghadapi kenaikan risiko premium dan bukan keruntuhan fundamental.
Jika Lee benar, bulan Maret bisa saja menantang narasi yang ada saat ini, yakni datang “seperti beruang,” tetapi keluar seperti banteng.
Grafik ini menunjukkan S&P 500 (garis hitam) tetap cukup stabil sepanjang paruh kedua Februari, sementara VIX (garis biru) mengalami fluktuasi tajam, termasuk kenaikan yang cukup besar di akhir bulan.
Jika VIX naik, itu mencerminkan meningkatnya permintaan perlindungan dari penurunan harga, atau dengan kata lain, kecemasan investor yang terus bertambah.
namun, dalam kasus ini, walaupun volatilitas melonjak, S&P 500 tidak ikut anjlok secara proporsional. Hal ini mengindikasikan risk premium bertambah lebih cepat daripada kerusakan harga yang sebenarnya.
Berikut ringkasan berita aset kripto di Amerika Serikat yang perlu diikuti hari ini:
| Perusahaan | Penutupan per 2 Maret | Ringkasan Pre-Market |
| Strategy (MSTR) | US$137,65 | US$132,77 (-3,55%) |
| Coinbase (COIN) | US$185,24 | US$177,99 (-3,91%) |
| Galaxy Digital Holdings (GLXY) | US$21,73 | US$20,65 (-4,97%) |
| MARA Holdings (MARA) | US$9,45 | US$9,03 (-4,44%) |
| Riot Platforms (RIOT) | US$16,43 | US$15,86 (-3,47%) |
| Core Scientific (CORZ) | US$16,49 | US$15,99 (-3,03%) |
