Cryptoharian – Pasar kripto kembali dipenuhi oleh satu pertanyaan besar, yakni apakah Bitcoin (BTC) sudah mencapai titik terendahnya?
Namun menurut seorang trader teknikal papan atas di platform X bernama Mr Anderson, titik dasar atau market bottom tidak terbentuk dalam satu momen atau satu candle besar. Sebaliknya, proses tersebut biasanya terbentuk secara perlahan melalui struktur harga yang jelas.
“Bottom bukan satu candle. Bottom adalah sebuah struktur yang terbentuk perlahan,” ungkap Anderson.
Ia menekankan, trader perlu membaca struktur pasar dengan sabar, bukan langsung menyimpulkan bahwa titik terendah sudah tercapai hanya karena terjadi satu lonjakan harga.
Harga Bitcoin Masih Terjebak di Dalam Range Besar
Saat ini, Anderson menjelaskan bahwa pergerakan Bitcoin masih terjebak dalam range candle besar yang terbentuk pada penurunan 5 Februari.
Selama hampir satu bulan terakhir, candle tersebut masih menjadi batas utama pergerakan harga. Artinya, selama harga belum benar-benar keluar dari range tersebut, sebagian besar pergerakan di dalamnya masih bisa dianggap sebagai noise pasar.
“Pantulan harga dari US$ 59.900 sejauh ini baru membawa Bitcoin ke bagian bawah dari range tersebut,” ujarnya.
Selain itu, harga juga mulai bertemu dengan resisten dari moving average awal, yang membuat kenaikan menjadi lebih sulit. Menurut Anderson, kondisi ini sebenarnya sangat normal setelah penurunan tajam.
“Pasar yang baru saja turun dari US$ 98.000 ke US$ 59.000 tidak akan langsung ke level tinggi dalam garis lurus,” kata Anderson.
Struktur Bottom Biasanya Terbentuk Secara Bertahap
Dalam analisanya, Anderson menjelaskan bahwa pembentukan bottom biasanya memiliki pola yang relatif konsisten. Prosesnya dimulai dari penurunan besar, lalu diikuti oleh fase konsolidasi dalam sebuah range. Setelah itu, harga biasanya mulai merebut kembali level-level penting secara perlahan.
Setiap level horizontal kemudian menjadi ujian baru bagi pasar.
Jika harga mampu merebut kembali level tersebut dan bertahan di atasnya, maka itu menunjukkan kekuatan pembeli. Sebaliknya, jika harga gagal bertahan dan kembali turun, maka struktur bottom masih belum selesai terbentuk.
Baca Juga: Bitcoin Tembus US$ 71,800, Analis Prediksi Harga Bisa Naik ke US$ 81.000
Dua Pola Bottom yang Paling Sering Terjadi
Mr. Anderson menjelaskan bahwa ada dua pola utama yang biasanya muncul ketika pasar membentuk titik dasar.
1. Bottom Bertipe Range
Pada pola ini, pasar bergerak dalam konsolidasi yang cukup lama setelah penurunan besar.
Harga kemudian perlahan-lahan naik kembali, melewati satu level resistensi ke level berikutnya. Proses ini sering terlihat lambat karena pembeli harus menyerap tekanan jual yang sebelumnya memicu penurunan besar.
Jika level berhasil dipertahankan, maka harga akan bergerak menuju level berikutnya.
2. Bottom Bertipe V
Pola kedua adalah V-bottom, yang jarang terjadi.
Dalam pola ini, harga mengalami penurunan tajam lalu segera memantul dengan kuat. Namun Anderson menekankan bahwa ciri utama V-bottom bukan sekedar pantulan yang cepat.
Yang paling penting adalah struktur kenaikan yang rapi setelah pantulan tersebut.
Harga biasanya akan naik secara bertahap dengan:
Proses ini menunjukkan bahwa pasar memiliki kekuatan beli yang stabil, bukan sekadar lonjakan sementara.
Level Penting Bitcoin yang Harus Diperhatikan
Menurut Anderson, beberapa level harga berikut akan menjadi penentu apakah Bitcoin benar-benar sedang membentuk bottom.
Beberapa zona penting yang perlu diperhatikan antara lain:
Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas level-level tersebut, peluang pembentukan bottom akan semakin kuat.
Namun jika ternyata berbalik turun di area tersebut, maka kemungkinan besar pasar masih membutuhkan waktu lebih lama atau bahkan penurunan tambahan sebelum bottom benar-benar terbentuk.


