Cryptoharian – Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan pada akhir pekan perdagangan, seiring dengan pola penurunan yang sering terjadi pada hari Jumat.
Salah satu analis mata uang kripto populer dari Belanda bernama Michael van de Poppe, menjelaskan bahwa pelemahan pasar pada hari Jumat belakangan ini menjadi pola yang cukup konsisten.
Menurutnya, banyak aset beresiko cenderung mengalami aksi jual menjelang penutupan pekan.
“Memang bukan kondisi yang ingin dilihat pasar, tetapi ini hari Jumat. Belakangan ini Jumat sering menjadi hari terjadinya aksi jual,” ungkap Michael van de Poppe.
Ia juga menambahkan bahwa pasar saham teknologi di Amerika Serikat, khususnya Nasdaq, turut mengalami pelemahan pada waktu yang sama.
Dalam analisisnya, Poppe menekankan bahwa zona US$ 67.000 hingga US$ 68.000 kini menjadi area support penting bagi Bitcoin.
Jika harga mampu bertahan di area tersebut, maka pasar masih memiliki peluang untuk mempertahankan struktur kenaikan jangka pendek.
Namun, jika level tersebut gagal dipertahankan, Bitcoin kemungkinan akan kembali menguji level terendah sebelumnya.
Menurutnya, pergerakan tersebut sering terjadi untuk mengambil likuiditas di area bawah sebelum pasar mencoba melakukan pemulihan.
“Jika Bitcoin tidak menemukan support di area US$ 67.000 hingga US$ 68.000, maka kemungkinan besar kita akan melihat pengujian kembali ke level rendah untuk mengambil likuiditas sebelum akhirnya memantul naik,” ujarnya.
Berdasarkan grafik yang ia bagikan, Bitcoin saat ini masih berusaha membentuk higher low sebagai area support baru. Namun, pasar masih perlu menunjukkan kekuatan tambahan agar dapat bergerak menuju zona resisten berikutnya.
Selama support utama masih dipertahankan, peluang pemulihan harga tetap terbuka. Sebaliknya, penurunan di bawah area tersebut dapat memicu volatilitas dalam jangka pendek.
Baca Juga: Trader Kripto Bongkar Cara Asli Market Bottom Terbentuk
Sementara itu hal senada juga disampaikan oleh analis lain yakni Max Trades, di mana ia menyebut bahwa BTC telah mengalami koreksi tajam setelah sebelumnya mencapai level tertinggi baru. Penurunan ini juga menyebabkab harga menembus garis tren naik, yang menurutnya dapat melemahkan struktur bullish jangka pendek.
Dalam analisanya, Max menjelaskan bahwa penembusan trendline tersebut menjadi sinyal awal bahwa momentum kenaikan mulai sekarang.
Menurut Max, Bitcoin kemungkinan akan memantul di area US$ 67.000 hingga US$ 68.000 dalam waktu dekat.
“Dari area tersebut, harga kemungkinan akan mencoba menguat kembali menuju zona resistensi utama pada grafik dengan area biru,” kata Max.
Zona ini sebelumnya telah menjadi area penting bagi pergerakan harga Bitcoin.
Max menilai bahwa area biru tersebut merupakan zona resistensi kuat, karena bertepatan dengan level Fibonacci penting pada grafik. Jika harga berhasil naik kembali ke area tersebut namun gagal menembusnya, Bitcoin berpotensi membentuk lower high.
Pembentukan lower high biasanya menjadi sinyal bahwa tren penurunan jangka pendek masih berlanjut. Menurut Max, kondisi tersebut juga bisa menjadi konfirmasi tambahan bagi trader yang mencari peluang short di pasar.
“Jika skenario tersebut terjadi, Bitcoin berpotensi kembali menguji area bawah dari range harga sebelumnya,” pungkas Max.

