Cryptoharian – Lonjakan harga minyak global kembali menjadi sorotan pasar. Pada hari Minggu (8/3/2026), harga minyak mencapai US$ 101 per barel, naik sekitar 55 persen hanya dalam 10 hari, kenaikan tercepat dalam sejarah.
Pergerakan ini juga mengguncang pasar keuangan global. Indeks SnP 500 SPX sempat turun ke level terendah dalam 10 minggu terakhir pada hari Jumat.
Sementara itu, Bitcoin (BTC) sempat merespon positif. Harga BTC melonjak sekitar 16 persen antara 28 Februari hingga Rabu, sebelum akhirnya kembali turun dan menghapus seluruh kenaikan tersebut pada akhir pekan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan di kalangan trader, yakni apakah konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran bisa menekan harga Bitcoin lebih jauh.
Kenaikan Harga Minyak Bisa Picu Inflasi
Lonjakan harga minyak sering berdampak besar pada ekonomi global.
Jika harga energi tetap tinggi, kondisi ini dapat memicu kenaikan inflasi, yang pada akhirnya dapat mengurangi daya beli konsumen. Hal ini menjadi perhatian besar, terutama ketika pasar tenaga kerja di Amerika Serikat masih menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Meski begitu, sejarah menunjukkan bahwa Bitcoin terkadang mendapatkan momentum setelah lonjakan harga minyak, meskipun efeknya biasanya baru terlihat dalam beberapa minggu.
Beberapa peristiwa sebelumnya menunjukkan pola menarik antara kebijakan harga minyak dan pergerakan Bitcoin.
Pada Juni 2025, harga minyak WTI melonjak sekitar 15 persen dalam satu minggu setelah laporan mengenai pengayaan uranium Iran dan serangan udara Israel di kawasan tersebut.
Awalnya, harga Bitcoin turun sekitar 8 persen dari US$ 110.300 ke US$ 101.000. Namun dalam empat minggu berikutnya, BTC justru naik sekitar 10 persen.
Peristiwa lain terjadi pada Maret 2023, ketika harga minyak naik 16% dalam delapan hari akibat sengketa hukum terkait ekspor minyak dari Kurdistan dan pemotongan produksi oleh OPEC.
Bitcoin saat itu sempat naik 12 persen dalam dua minggu, meskipun akhirnya kembali ke level sekitar US$ 28.000 dalam waktu kurang dari sebulan.
Baca Juga: Bitcoin di Bawah US$ 70.000, Rainbow Chart Sebut Ini Zona Beli
Pola Serupa di Tahun-Tahun Sebelumnya
Pada Februari 2022, harga minyak melonjak 29 persen dalam satu minggu setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Bitcoin sempat naik 17 persen dalam dua hari pertama, namun seluruh kenaikan tersebut hilang pada akhir minggu. Namun dalam tiga minggu berikutnya, BTC akhirnya naik sekitar 25 persen hingga mencapai US$ 48.000.
Sementara itu, pada November 2020, harga minyak naik 23 persen dalam sembilan hari ketika pasar mulai optimis terhadap vaksin Covid-19.
Dalam periode yang sama, Bitcoin naik 16 persen, lalu melanjutkan reli hingga 45 persen dalam waktu kurang dari satu bulan.
Target Bitcoin US$ 79.200 Jika Pola Terulang
Jika melihat empat peristiwa sebelumnya, Bitcoin rata-rata naik sekitar 20 persen dalam empat minggu setelah harga minyak melonjak lebih dari 15 persen dalam waktu singkat.
Jika pola tersebut kembali terjadi, harga Bitcoin mencapai sekitar US$ 79.200 pada akhir Maret.
Target ini berasal dari kenaikan sektiar 20 persen dari harga sekitar US$ 66.000, yang menjadi titik awal reli setelah lonjakan harga minyak pada 28 Februari.
Meski ada potensi korelasi dengan harga minyak, Bitcoin saat ini juga memiliki hubungan kuat dengan pasar saham teknologi.
Data terbaru menunjukkan bahwa Bitcoin memiliki korelasi sekitar 81 persen dengan indeks Nasdaq 100.
Artinya, jika ketegangan geopolitik mereda dan pasar saham kembali pulih, Bitcoin kemungkinan juga akan mendapat dorongan positif.


