Cryptoharian – Harga XRP justru terus melemah meskipun terjadi aksi beli besar-besaran senilai lebih dari US$ 35 juta dalam waktu kurang dari satu jam. Kondisi ini membuat banyak pelaku pasar bertanya-tanya, kenapa harga tidak ikut naik seperti biasanya.
Dalam beberapa hari terakhir, XRP memang berada di bawah tekanan. Setelah sempat menyentuh US$ 1,6 pada pertengahan Maret, harga kini turun ke kisaran US$ 1,32. Penurunan ini bahkan berlanjut meski ada lonjakan permintaan yang cukup signifikan.
Biasanya, pembelian dalam jumlah besar akan mendorong harga naik. Namun kali ini, hal itu tidak terjadi.
Menurut analis order book, Dom, pembelian tersebut dilakukan oleh entitas misterius dengan cara yang sangat terstruktur.
Transaksi dilakukan dalam jumlah kecil namun konsisten, dengan pola yang hampir identik. Misalnya, ada ratusan order berisi 10.000 XRP yang dieksekusi secara berkala setiap beberapa detik. Aktivitas ini berlangsung hampir satu jam dan tersebar di beberapa exchange besar seperti Coinbase, Kraken, dan Bitstamp.
Strategi ini dikenal sebagai TWAP (Time-Weighted Average Price), yaitu teknik untuk memecah order besar menjadi bagian kecil agar tidak langsung menggerakkan harga pasar.
Dengan cara ini, pembeli bisa mengakumulasi aset dalam jumlah besar tanpa menarik perhatian atau menyebabkan lonjakan harga secara tiba-tiba.
Baca Juga: Tekanan Besar di Pasar Kripto Bikin Altcoin Jatuh Berjamaah
Permintaan Naik, Tapi Harga Tidak Bergerak
Data pasar menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam beli. Hal ini terlihat dari naiknya indikator seperti Cumulative Volume Delta (CVD), yang biasanya menandakan dominasi pembeli di pasar.
Namun anehnya, harga tetap tidak naik.
Jawabannya ada pada peran market maker.
Saat pembeli menyerap order jual yang ada, market maker langsung mengisi kembali order tersebut di level harga yang sama. Dengan kata lain, suplai tetap tersedia meskipun permintaan menigkat.
Akibatnya, pembeli tidak perlu menaikkan harga untuk mendapatkan XRP. Inilah yang membuat harga tetap tertahan, bahkan terus turun.
Selain itu, kondisi pasar secara keseluruhan juga masih cenderung bearish. Tekanan jual dari pelaku lain kemungkinan lebih besar dibandingkan akumulasi yang terjadi.
Jadi, meskipun ada pembelian besar, efeknya “tertutup” oleh suplai yang terus muncul dan sentimen pasar yang lemah.


