Google Quantum AI telah merilis whitepaper yang menunjukkan bahwa mereka dapat membobol kriptografi elliptic curve yang melindungi sebagian besar blockchain, hanya dengan menggunakan sumber daya 20 kali lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya.
Tim, yang turut melibatkan peneliti Ethereum Foundation Justin Drake dan kriptografer Stanford Dan Boneh, menolak untuk mempublikasikan sirkuit serangan itu secara langsung. Sebagai gantinya, mereka merilis zero-knowledge proof yang memungkinkan siapa saja memverifikasi klaim tersebut tanpa mengetahui cara kerja serangannya.
Bayangkan sebuah wallet blockchain seperti sebuah kunci gembok. Kekuatan kunci ini bergantung pada persoalan matematika yang disebut Elliptic Curve Discrete Logarithm Problem (ECDLP-256).
Komputer saat ini akan membutuhkan waktu miliaran tahun untuk memecahkan masalah ini. Tapi, komputer kuantum yang menjalankan algoritme Shor bisa melakukannya hanya dalam hitungan menit.
Peneliti Google menyusun dua sirkuit untuk serangan tersebut. Salah satu sirkuit membutuhkan kurang dari 1.200 qubit logis dan 90 juta operasi. Sirkuit lainnya menggunakan kurang dari 1.450 qubit logis dan 70 juta operasi. Keduanya dapat dijalankan dengan kurang dari 500.000 qubit fisik.
Perkiraan sebelumnya mematok kebutuhan sekitar 10 juta qubit fisik. Google baru saja memangkas angka itu menjadi seperduapuluhnya.
Tim itu memilih untuk tidak merilis sirkuitnya karena jika dipublikasikan, akan menjadi cetak biru bagi penyerang.
Ryan Babbush, Director of Quantum Algorithms di Google, dan Hartmut Neven, VP Google Quantum AI, menjelaskan bahwa membagikan estimasi kebutuhan sumber daya tanpa sirkuitnya mengikuti norma-norma pengungkapan yang bertanggung jawab.
Makalah ini memperingatkan bahwa Bitcoin (BTC) sendiri memiliki lebih dari 1,7 juta BTC yang tersimpan di wallet dengan format di mana public key-nya sudah terekspos.
Jumlah itu bisa mencapai 2,3 juta BTC jika semua jenis skrip yang rentan dihitung.
Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan chain lain menghadapi risiko serupa melalui smart contract, sistem staking, dan mekanisme ketersediaan data.
Google telah menetapkan batas waktu hingga tahun 2029 untuk migrasi pasca-kuantum mereka sendiri. Haseeb Qureshi, managing partner Dragonfly Capital, menyebut temuan ini “serius” dan mengingatkan bahwa seluruh blockchain harus segera menyiapkan rencana transisi.
Nic Carter, co-founder Castle Island Ventures, menyebut makalah ini “benar-benar membuat sadar”.
Jam kuantum sekarang bukan lagi sekadar teori. Pertanyaannya sekarang adalah apakah aset kripto bisa meng-upgrade pengamannya sebelum seseorang berhasil membuat kuncinya.


