Emas menutup Maret 2026 dengan penurunan bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Logam mulia ini turun lebih dari 11% serta mengakhiri reli kenaikan selama delapan bulan berturut-turut.
Ikuti kami di X untuk dapatkan berita terbaru secara real-time
Serangan AS-Israel terhadap Iran di akhir Februari menutup Selat Hormuz sehingga harga minyak melonjak tajam. Tapi, alih-alih menjadi tujuan aset safe-haven, harga emas justru bergerak turun. BeInCrypto melaporkan bahwa emas mencatat penurunan mingguan paling tajam sejak 1983 di bulan ini.
Menurut Sprott Money, “penurunan ini banyak disebabkan oleh anggapan keliru bahwa harga energi yang lebih tinggi akan menyebabkan kenaikan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan,” dan mereka menyebutnya sebagai kegilaan.
Meski turun, harga emas sudah mulai pulih. Pada 1 April, emas naik di atas US$4.700 pada awal jam perdagangan Asia.
Schiff menetapkan titik terendah pada 23 Maret sebagai kemungkinan dasar, dengan mengatakan April bisa menjadi bulan terkuat emas sejak 1980. Sprott Money juga memperkirakan harga emas akan kembali naik, karena “sepertinya kita sudah berada di Puncak Kegilaan pada akhir pekan lalu.”
Selain itu, The Kobeissi Letter menyoroti bahwa 95% saham di VanEck Gold Miners ETF (GDX) berada di wilayah bear market.
Sinyal serupa terakhir muncul pada akhir 2023 dan mendahului reli multi-tahun lebih dari 346%. Oleh sebab itu, meski prospek emas cukup positif, faktor geopolitik dan ekonomi makro tetap perlu diperhatikan ke depannya.
Subscribe channel YouTube kami untuk menyaksikan pemimpin industri dan jurnalis membagikan insight ahli

