Dr. Ben Goertzel, CEO Artificial Superintelligence Alliance (ASI), mengungkapkan kepada BeInCrypto bahwa timnya dapat mereplikasi quantum attack circuits yang dibuat oleh Google Quantum AI, namun tidak dipublikasikan. Ia memperingatkan, jika organisasinya bisa membuatnya, negara-negara juga pasti sudah mampu melakukannya.
Whitepaper Google tanggal 30 Maret menunjukkan bahwa dua rangkaian sirkuit yang berfungsi, menggunakan algoritma Shor untuk membobol kriptografi elliptic curve 256-bit, bisa dibangun dengan kurang dari 500.000 qubit fisik. Tim Google memutuskan untuk tidak merilis kodenya melainkan hanya mempublikasikan zero-knowledge proof. Goertzel mengatakan kepada BeInCrypto bahwa keputusan tersebut sama sekali tidak mengubah situasi.
Google menganggap keputusan untuk tidakmempublikasikan sirkuit itu sebagai bentuk disclosure yang bertanggung jawab. Dalam postingan blog, mereka menyebutnya sebagai keputusan yang disengaja dan berlawanan dengan kebiasaan tim yang biasanya transparan sepenuhnya, dengan alasan adanya potensi penyalahgunaan.
Industri aset kripto kebanyakan memperdebatkan apakah tindakan ini sejalan dengan prinsip utama “jangan percaya, verifikasi”.
Goertzel tidak memedulikan kekhawatiran tersebut. Ia menyampaikan kepada BeInCrypto bahwa kerahasiaan tersebut pada dasarnya tidak berdampak apapun.
Ia menambahkan bahwa ASI Alliance tidak pernah menahan kode mereka sendiri demi alasan keamanan, meskipun tim sempat mendiskusikan hal itu secara internal. Sikap dasarnya selalu terbuka.
Menurutnya, manfaat dari pengawasan terdesentralisasi jauh lebih besar daripada sedikit pengurangan risiko dari kerahasiaan, terutama ketika penemuan paralel merupakan hal yang biasa.
Namun, ia memberikan pengecualian jika sesuatu benar-benar berbahaya, akut, dan berjangka waktu pendek, maka tim akan menahannya sementara.
Tapi, menurut dia, sirkuit Google tidak termasuk dalam kategori tersebut karena pengetahuan untuk membangunnya sudah tersebar luas dan dapat diakses oleh pelaku yang cukup mampu.
Whitepaper Google menggambarkan apa yang mereka sebut sebagai “on-spend attack”. Sebuah komputer kuantum dapat menyiapkan sebagian perhitungan sejak awal, lalu membobol transaksi Bitcoin (BTC) dalam waktu sekitar sembilan menit begitu public key terekspos.
Karena rata-rata waktu konfirmasi sebuah block Bitcoin adalah 10 menit, penyerang punya kemungkinan 41% untuk menyelesaikan serangan lebih dulu.
Makalah itu juga memperkirakan sekitar 6,9 juta BTC sudah tersimpan di wallet yang public key-nya pernah terekspos dalam suatu bentuk.
Jumlah tersebut mencakup sekitar 1,7 juta koin dari tahun-tahun awal jaringan, serta dana tambahan yang terdampak oleh penggunaan ulang alamat dan upgrade Taproot Bitcoin, yang membuat public key terlihat secara default.
Goertzel mengatakan kepada BeInCrypto bahwa tingkat serangan 41% bukan sekadar risiko di ambang batas, melainkan sudah merupakan kegagalan struktural.
Ia menekankan bahwa perangkat keras untuk melancarkan serangan seperti ini memang belum ada. Namun, pembuktian matematisnya sudah selesai, dan Google sudah menetapkan tenggat tahun 2029 agar industri bisa bermigrasi ke post-quantum cryptography (PQC).
Saat ini, Bitcoin belum punya roadmap upgrade yang terkoordinasi untuk mengejar tenggat waktu tersebut.
Ketika banyak pihak di industri memperdebatkan dampaknya, Goertzel menyampaikan kepada BeInCrypto bahwa timnya sudah memprediksi situasi ini sejak beberapa tahun lalu.
Ia bahkan sebelumnya memprediksi bahwa artificial general intelligence (AGI) yang setara manusia bisa tercapai pada tahun 2027 atau 2028.
Timeline kuantum Google menempatkan kedua terobosan ini pada jalur yang akan bertabrakan, dan Goertzel berkata bahwa ASI Alliance mendesain infrastruktur mereka khusus untuk titik konvergensi ini.
ASI:Chain, blockchain layer-1 yang sedang dikembangkan oleh Alliance, menggunakan MeTTa sebagai bahasa smart contract, bukan Solidity.
Menurut Goertzel, MeTTa mengadopsi sistem tipe kuantum dan timnya sudah membuat versi kuantum dari algoritma AGI Hyperon utama untuk fokus alokasi, logika probabilistik, dan pembelajaran evolusioner.
Lapisan enkripsinya bersifat modular. Kriptografi yang aman terhadap serangan kuantum—termasuk skema berbasis lattice dan hash—bisa dipasangkan langsung tanpa perlu mendesain ulang chain atau melakukan hard fork.
Konsekuensinya adalah beban komputasi tambahan, yang menurut Goertzel merupakan tantangan teknis nyata, namun bukan masalah arsitektur.
Artificial Superintelligence Alliance (FET) terbentuk dari penggabungan token SingularityNET, Fetch.ai, Ocean Protocol, dan CUDOS.
Ocean Protocol kemudian keluar dari merger, langkah yang lalu memicu tindakan hukum di tengah tuduhan pencurian token.
Token miliknya, FET, saat ini diperdagangkan sekitar US$0,241, naik lebih dari 5% dalam 24 jam terakhir.
Whitepaper dari Google menyoroti sekitar 1,7 juta BTC di wallet Pay-to-Public-Key (P2PK) dari era Satoshi yang secara permanen mengekspos public key mereka.
Koin-koin ini tidak bisa dimigrasi. Pemiliknya sudah tidak ada atau tak bisa dihubungi. Paper tersebut mengusulkan kerangka “digital salvage” yang bisa memberikan pemerintah kewenangan hukum untuk membobol koin dorman dengan teknologi quantum.
Goertzel menolak premis tersebut.
Ia mengakui bahwa koin-koin itu pada akhirnya akan dibobol seseorang. Pertanyaannya, apakah ada kerangka hukum yang mengatur prosesnya atau justru bebas untuk siapa saja. Ia lebih setuju untuk membiarkan koin dorman tidak disentuh sebagai soal prinsip, dan ekosistem menjaga harga dengan memperhitungkan potensi kerentanan tersebut di masa depan.
Co-founder Binance, Changpeng Zhao (CZ), mengutarakan sudut pandang berbeda, dengan menyarankan jika koin Satoshi tidak berpindah dalam periode waktu tertentu, komunitas bisa mempertimbangkan untuk mengunci atau membakar alamat-alamat tersebut sebelum hacker bisa mengaksesnya.
Ia menambahkan bahwa mengidentifikasi semua alamat Satoshi tanpa mencampurkan dengan holder awal bakal jadi tantangan tersendiri.
Venture capitalist Chamath Palihapitiya menyebut whitepaper Google itu “cukup masuk akal” dan mendorong komunitas kripto untuk segera menyusun roadmap ketahanan terhadap quantum dalam beberapa tahun ke depan.
CZ menuturkan, kripto tetap akan bertahan di era quantum namun ia memperingatkan bahwa koordinasi upgrade lintas jaringan yang terdesentralisasi bisa memicu perdebatan, fork, dan potensi muncul bug keamanan baru.
Pernyataan Goertzel jauh lebih tegas. Ia menyampaikan kepada BeInCrypto bahwa proyek yang akan bertahan adalah proyek yang sudah merancang solusi quantum sejak bertahun-tahun lalu. Proyek yang baru mulai saat koin pertama berhasil diretas, tidak akan bertahan.
Dengan latar belakang itu, saran dia untuk holder ritel bersifat praktis. Pindahkan aset ke alamat dengan format kunci terbaru yang tersedia.
Untuk Bitcoin, artinya gunakan alamat native SegWit (bech32) di mana public key tetap tersembunyi sampai aset dibelanjakan. Hindari penggunaan ulang alamat. Untuk Ethereum (ETH), kelemahan justru lebih pada struktur dasarnya dan solusi di tingkat individu masih terbatas.
Saat ditanya apakah ancaman quantum sepenuhnya menggugurkan tesis desentralisasi, Goertzel berujar pada BeInCrypto bahwa jawabannya tidak.
Tapi, hal ini sangat meningkatkan taruhan. Jika aktor terpusat berhasil membobol Bitcoin dorman dan menguasai ratusan miliar aset, itu akan menjadi kekuatan sentralisasi yang sangat besar. Namun, tesisnya memang tidak pernah didasarkan pada ketahanan kriptografi lama untuk selamanya.
Whitepaper Google, dipadukan dengan studi terpisah dari Caltech dan Oratomic yang menunjukkan bahwa algoritma Shor dapat dijalankan pada skala kriptografi menggunakan 10.000 qubits, mengindikasikan jendela waktu persiapan lebih singkat dari yang kebanyakan orang perkirakan.
Goertzel mengklaim timnya sudah lebih dulu memanfaatkan jendela waktu itu. Kini, industri lain berlomba untuk mengejar ketertinggalan.

