Volume stablecoin onchain akan mencapai US$33 triliun pada 2026. Itulah angka utama yang tercantum pada selebaran Ripple di XRP Tokyo 2026.
Konferensi utama XRPL akan berlangsung pada 7 April di Jepang. Pesan untuk perusahaan fintech sangat jelas: stablecoin sekarang sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.
Selain itu, perusahaan ini menyebut dirinya sebagai “mitra terpercaya untuk menjembatani keuangan tradisional dengan digital.” Ripple memiliki lebih dari 75 lisensi di seluruh dunia, sehingga mereka menawarkan apa yang disebutnya “pengaturan stablecoin yang kuat dan sesuai regulasi.”
Fakta Menarik: Angka US$33 triliun akan membuat volume stablecoin lebih besar daripada gabungan PDB AS dan Cina!
Jepang sudah lama menjadi salah satu pasar yang paling ramah terhadap aset kripto di dunia. Negara ini menerapkan regulasi yang jelas lebih dulu, serta terus menjadi pemimpin dalam adopsi. Bagi Ripple, Jepang adalah wilayah strategis utama.
SBI Holdings, salah satu grup finansial terbesar di Jepang, telah bekerja sama dengan Ripple sejak 2016. Bersama, mereka membentuk SBI Ripple Asia untuk mendorong adopsi blockchain di kawasan tersebut. Kemitraan ini memberi Ripple akses langsung ke bank dan lembaga keuangan Jepang.
Selain itu, regulator Jepang mengambil pendekatan progresif terhadap aset digital. Hal ini menciptakan lingkungan kondusif untuk RLUSD maupun produk-produk Ripple lainnya.
Oleh sebab itu, Jepang menjadi tempat pengujian untuk adopsi kripto institusional dan memberikan wawasan berharga bagi integrasi solusi blockchain ke infrastruktur keuangan tradisional secara besar-besaran.
XRPL Japan menyelenggarakan XRP Tokyo 2026 dengan Ripple sebagai sponsor utama. Acara ini berfokus pada peran XRP yang semakin besar dalam adopsi institusional, tokenisasi RWA, dan DeFi.
Kehadiran perusahaan dalam acara tersebut juga menegaskan dorongan Ripple untuk memperkuat kehadiran di Asia. Dengan lebih dari 75 lisensi global dan jalur jelas untuk RLUSD, Ripple terus memperluas kemitraan fintech di kawasan ini.


