Cryptoharian – Seorang trader yang selama berbulan-bulan menjadi bahan pembicaraan komunitas kripto kembali jadi sorotan, setelah disebut mengalami kerugian besar di posisi Ethereum. Berdasarkan laporang dari salah satu influencer kripto di media sosial X bernama ‘Ash Crypto’, whale yang dikaitkan dengan Garrett Jin, kini terlikuidasi penuh pada posisi long ETH dan kehilangan sekitar US$ 250 juta, dengan sisa dana di akun perdagangannya hanya tinggal US$ 53.
Ash menjelaskan bahwa Garrett Jin diduga menjadi salah satu insider, lantaran meraup untung besar pada saat crash market 10 Oktober lalu.
“Kerugian seumur hidupnya kini mencapai US$ 128 juta, dan ia hanya memiliki US$ 53 di rekening hiperlikuidnya,” ungkap Ash.
Klaim tersebut sejalan dengan laporan media yang mengutip data on-chain dari Arkham Intelligence. Laporan itu menyebut akun yang dikenal dengan ‘Hyperunit Whale’ menutup seluruh posisi ETH dengan kerugian sekitar US$ 250 juta dan berakhir nyaris tanpa saldo.
Nama Garrett Jin sendiri sebelumnya sudah muncul dalam berbagai liputan, ketika sebuah wallet di platform derivatif terdesentralisasi Hyperliquid disebut menghasilkan keuntungan mendekati US$ 200 juta dari posisi short pada BTC dan ETH menjelang gejolak pasar pada Oktober 2025.
Sejumlah investigasi on-chain mengaitkan wallet tersebut dengan Jin, meski klaim ‘insider’ masih tetap dugaan dan sempat juga dibantah.
Baca Juga: Binance Disebut Siap Jadi Pembeli Besar Bitcoin dalam 30 Hari, Kata Trader Ini
Identitasnya pun sempat menjadi bahan perdebatan. Analis on-chain yang dikenal sebagai ‘Eye’ mengaitkan aktivitas wallet tertentu dengan Garrett Jin, eks CEO BitForex, melalui jejak domain Ethereum Name Service. Jin pernah membantah kepemilikan dana tersebut, namun menyebut mengetahui pihak di balik perdagangan dan menekankan bahwa dana itu bukan miliknya.
Jin sendiri diketahui lulus dari Boston University pada tahun 2008 dengan gelar ekonomi, sebelum berkarier di bursa kripto dan sempat memimpin BitForex sebagai CEO pada periode 2017 hingga 2020.
Masa kepemimpinannya kemudian kerap disebut dalam laporan dan diskusi komunitas, terutama setelah BitForex dikaitkan dengan tuduhan memalsukan volume perdagangan serta disebut beroperasi tanpa registrasi di Jepang.
Kontroversi BitForex kemudian memuncak pada awal 2024 lalu. Bursa tersebut membekukan penarikan dana pada Februari 2024 setelah sekitar US$ 57 juta dilaporkan keluar dari hot wallet tanpa penjelasan yang memadai.
Situasi semakin memperkeruh kepercayaan pengguna ketika CEO saat itu bernama Jason Luo, mundur hanya beberapa hari sebelum platform kemudian sulit diakses.
Di tengah kekacauan tersebut, regulator di Hong Kong, yakni Securities and Futures Commission mengeluarkan peringatan terkait dugaan penipuan, sementara banyak pengguna melaporkan kehilangan akses terhadap aset mereka.
