Data on-chain terbaru menunjukkan cadangan Bitcoin di exchange terus mengalami penurunan tajam dan kini menyentuh level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Total Bitcoin Exchange Reserves saat ini tercatat berada di sekitar 2,74 juta BTC, memunculkan spekulasi bahwa pasar sedang menuju kondisi “supply shock” yang berpotensi mendorong reli harga.
Penurunan cadangan BTC di exchange sering dianggap sebagai sinyal bullish karena menandakan berkurangnya suplai likuid yang siap dijual. Jika permintaan tetap stabil atau meningkat, kondisi tersebut dapat mempercepat kenaikan harga akibat ketidakseimbangan antara suplai dan demand.
Dilaporkan Crypto Quant, secara historis, penurunan besar cadangan Bitcoin di exchange kerap menjadi pemicu pergerakan harga yang kuat. Pada periode Maret hingga November 2020, exchange reserves turun dari 3,27 juta BTC menjadi 2,9 juta BTC. Penurunan tersebut mengurangi likuiditas sisi jual, yang kemudian menjadi salah satu faktor pendorong bull run besar pada 2021.
Dengan semakin sedikit BTC yang tersedia di bursa, tekanan jual menurun dan harga lebih mudah terdorong naik ketika arus permintaan masuk.
Contoh lain terjadi pada November 2022 ketika cadangan BTC di exchange turun secara parabolik dari 3,52 juta BTC menjadi sekitar 3 juta BTC hanya dalam hitungan hari. Penurunan ekstrem tersebut terjadi bersamaan dengan fase capitulation dan dinilai menjadi penanda terbentuknya bottom siklus pasar.
Setelah periode itu, Bitcoin mulai memasuki fase pemulihan harga secara bertahap.
Saat ini, tren penurunan exchange reserves kembali terlihat secara konsisten dalam skala makro. Dalam dua tahun terakhir, cadangan Bitcoin di exchange telah turun dari sekitar 3,2 juta BTC menjadi 2,74 juta BTC.
Penurunan ini menunjukkan bahwa investor semakin banyak memindahkan Bitcoin mereka ke cold storage atau wallet pribadi, sehingga mengurangi suplai yang dapat diperdagangkan di pasar terbuka.
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 11 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.
Dengan cadangan Bitcoin di exchange berada di level rendah, analis menilai pasar berpotensi memasuki fase supply shock. Supply shock terjadi ketika suplai likuid di pasar menipis, sehingga setiap kenaikan permintaan dapat mendorong harga naik lebih cepat dari biasanya.
Kesimpulan dari tren ini menunjukkan bahwa investor tampaknya memilih menahan aset dalam jangka panjang, bukan menyiapkan untuk dijual. Jika pola historis kembali terulang, penurunan besar exchange reserves dapat menjadi fondasi bullish yang kuat untuk pergerakan harga Bitcoin berikutnya, terutama jika permintaan tetap bertahan atau mulai meningkat.
Menurut Tim Research Tokocrypto, historisnya, penurunan besar supply di exchange sering mendahului fase bullish (contoh 2020: 3.27M→2.9M; Nov 2022: 3.52M→~3.0M).
“Setup ini bisa membentuk “supply shock” yang mendukung reli—namun hanya terjadi bila demand tetap stabil/naik; kalau demand melemah, dampaknya bisa tertahan oleh sentimen risk-off,” analisanya.
Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Menguat ke $70.682, Sentimen Pulih
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
The post Bitcoin Makin Langka di Bursa, Sinyal Bull Run Baru Muncul? appeared first on Tokocrypto News.

