Cryptoharian – Pasar kripto kembali berada di bawah tekanan. Bitcoin (BTC) turun tajam hingga menembus level US$ 66.000, sementara altcoin mengalami perunurunan yang lebih dalam.
Salah satu analis kripto bernama Ash Crypto, lewat media sosial X mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor besar yang mendorong pelemahan ini, dan semuanya berasal dari kondisi makro global yang semakin tidak kondusif.
Ketegangan Global Belum Mereda
Salah satu pemicu utama datang dari situasi geopolitik yang terus memburuk.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda mereda. Serangan masih berlangsung, sementara gangguan terhadap jalur perdagangan, termasuk kapal-kapal di kawasan strategis, terus terjadi.
Dalam kondisi seperti ini, ketidakpastian pun meningkat. Investor cenderung menghindari aset beresiko seperti kripto dan beralih ke instrumen yang lebih aman.
Tekanan dari Pasar Obligasi
Selain itu, pasar obligasi juga memberikan sinyal negatif.
Yield obligasi, baik di Jepang maupun Amerika Serikat, terus mengalami kenaikan. Pada saat yang sama, MOVE Index yang mengukur volatilitas di pasar obligasi juga meningkat.
Kondisi ini biasanya berkaitan dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, terutama akibat lonjakan harga energi. Ketika inflasi naik, biaya modal ikut meningkat, dan likuiditas di pasar mulai mengetat.
Dampaknya langsung terasa pada aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Baca Juga: Analis Klaim Penurunan Bitcoin Masih Terlalu Dangkal
Sikap The Fed Makin Ketat
Faktor ketiga datang dari kebijakan moneter.
Pasar kini mulai memperkirakan bahwa The Fed tidak akan menurunkan suku bunga pada 2026. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga kembali mulai diperhitungkan.
Kondisi ini mencerminkan sikap yang lebih hawkish dari bank sentral. Bagi pasar, ini bukan kabar baik. Suku bunga tinggi berarti likuiditas berkurang, dan itu biasanya menekan harga aset seperti saham dan kripto.
Menunggu Perubahan Sentimen
Di tengah kondisi ini, Ash menyoroti satu hal menarik, yakni komunikasi dari Presiden Amerika Donald Trump.
Menurutnya, selama Trump belum menunjukkan kekhawatiran terhadap pasar, tekanan kemungkinan masih akan berlanjut. Namun, jika narasinya berubah menjadi lebih optimis, misalnya menyebut pasar sebagai undervalued atau peluang beli, maka potensi pembalikan arah bisa mulai muncul.

