Cryptoharian – Rencana peningkatan anggaran militer Amerika Serikat kembali menjadi sorotan pasar, termasuk kripto. Proposal tambahan sekitar US$ 200 miliar untuk konflik Iran, di atas anggaran pertahanan tahunan yang sudah mendekati US$ 900 miliar. Hal ini pun memicu kekhawatiran baru soal arah ekonomi global, salah satunya pasar aset digital.
Isu ini bukan sekedar geopolitik. Bagi pasar, ini langsung berkaitan dengan utang, inflasi dan kekuatan dolar. Ketiga faktor sangat memengaruhi pergerakan aset beresiko seperti aset kripto.
Beberapa laporan menyebut Pentagon telah mengajukan permintaan dana tambahan yang nilainya jauh di atas paket sebelumnya. Jika disetujui, total belanja militer Amerika berpotensi melampaui US$ 1 triliun.
Di sisi lain, muncul juga wacana agar negara-negara Arab ikut menanggung sebagian biaya perang. Namun, belum jelas seberapa realistis skenario tersebut.
Bagi pasar kripto, dampak paling langsung datang dari perubahan sentimen makro.
Ketika ketidakpastian semakin meningkat, investor biasanya mengurangi ekspor ke aset beresiko. Ini sering memicu tekanan jangka pendek, terutama pada altcoin dan aset dengan volatilitas tinggi.
Baca Juga: Apakah Sekarang ETH Siap Bangkit dari Tekanan?
Namun, situasinya tidak selalu satu arah.
Di tengah kekhawatiran soal utang dan potensi pelemahan nilai mata uang fiat, sebagian investor justru mulai melihat aset seperti Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai. Narasi ini pernah muncul di berbagai periode krisis sebelumnya.
Artinya, dalam jangka pendek pasar bisa goyah, tetapi dalam jangka lebih panjang, kondisi ini justru bisa memperkuat posisi aset non-sovereign seperti Bitcoin.
Yang membuat situasi ini makin kompleks adalah kombinasi antara geopolitik dan kebijakan fiskal yang agresif.
Jika pasar mulai percaya bahwa defisit akan terus melebar tanpa solusi jelas, maka tekanan dolar bisa meningkat. Dalam skenario seperti itu, aset dengan suplai terbatas berpotensi mendapat perhatian lebih besar.
Namun sebelum sampai ke sana, volatilitas kemungkinan tetap tinggi.
Pasar masih dalam fase menilai resiko. Selama ketidakpastian belum mereda, pergerakan harga akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru, baik dari sisi perang maupun kebijakan ekonomi.

