Cryptoharian – Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki kembali menjadi sorotan setelah menyatakan dirinya tidak terganggu oleh tekanan besar yang menimpa pasar kripto. Dalam unggahan terbarunya di media sosial X pada 22 Januari, Kiyosaki menanggapi koreksi pasar yang disebut menghapus sekitar US$ 220 miliar nilai kapitalisasi sejak 18 Januari hingga 23 Januari.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak peduli apakah harga Bitcoin, emas dan perak bergerak naik atau turun.
Bagi Kiyosaki, fokusnya bukan pada fluktuasi harian, melainkan pada kepemilikan jangka panjang. Ia meyakini bahwa selama seseorang terus memiliki dan menambah porsi Bitcoin, emas dan perak, peluang menjadi semakin kaya tetap terbuka.
Argumen utamanya berkisar pada kondisi fundamental Amerika Serikat, yakni utang nasional yang terus naik dan daya beli dolar yang terus melemah. Dalam narasinya, dua hal itu membuat aset yang ia sebut sebagai ‘penyimpan nilai‘ menjadi semakin relevan.
Kiyosaki menyinggung lonjakan utang pemerintah Amerika yang disebut naik dari US$ 36,19 triliun pada akhir 2024 menjadi lebih dari US$ 38,40 triliun pada akhir 2025, meski ada janji pembatasan belanja dari pemerintahan.
Pada periode yang sama, ia menyoroti pelemahan nilai dolar yang disebutkan turun 2,68 persen. Ia menutup kritiknya dengan sindiran khasnya terhadap pengelola kebijakan, dan menyebut dunia dikendalikan oleh orang-orang ‘berpendidikan tinggi’ namun inkompeten mengatur The Fed, Treasury dan Pemerintah Amerika.
Baca Juga: Pola 2021 Kembali? Rekt Capital Sebut Sejarah Terulang di Grafik Bitcoin
Pernyataan ini sebenarnya sejalan dengan benang merah yang sudah bertahun-tahun ia bawa, yakni ketidakpercayaan pada mata uang fiat dan keyakinan bahwa krisis besar pada akhirnya akan menggerus kekayaan banyak orang. Ia pun terus mengulang resep investasinya, dengan menambah Bitcoin, emas dan perak, serta jika memungkinkan, memiliki aset yang menghasilkan seperti bisnis, properti dan aset produktif lain.
Kiyosaki juga menggunakan performa komoditas sebagai pembenaran. Dalam 12 bulan terakhir, ia menyoroti emas yang disebut naik 78,70 persen ke kisaran US$ 4.923 dan perak yang disebut melesat 225 persen mendekati US$ 99.
Sementara untuk Bitcoin, meski sedang turun, ia menilai level harga saat ini masih mencerminkan kekuatan jangka panjang, Bitcoin disebut melemah 14,35 persen dalam setahun, tetapi harga sekitar US$ 89.140 masih lebih tinggi dibandingkan fase-fase sebelum akhir 2024.
Meski begitu, catatan pentingnya ada pada sisi praktik. Ketidakpedulian akan naik-turun harga terdengar meyakinkan, namun efektivitas pendekatan ini juga bergantung pada dua hal, yakni timing dan kemampuan menahan posisi lama.
Contohnya, mereka yang membeli Bitcoin di akhir 2021 harus menunggu hingga awal 2024 untuk kembali ke zona untung. Di sisi lain, Kiyosaki juga pernah mendorong pembelian di atas US$ 100.000, sementara harga kini berada jauh di bawah level tersebut.

